Media Visual Dua Dimensi


A.    Pengertian Media Visual Dua Dimensi
Media visual adalah media yang hanya mengandalkan indra penglihatan. Media visual ini ada yang menampilkan gambar diam seperti film strip (film rangkai), slides (film bingkai) foto , gambar atau lukisan dan cetakan. Ada pula media visual yang menampilkan gambar atau simbol yang bergerak seperti film bisu dan kartun.[1]
Media visual dua dimensi merupakan media yang bersifat elektronik, yang di proyeksikan serta terdiri dari perangkat keras (hardware) dan perangkat lunak (software). Penggunaan media ini memerlukan aliran listrik untuk dapat menggerakan pemakainya. Ada beberapa macam media visual dua dimensi ini, antara lain overhead proyektor, slide dan film strip.[2]
B.     Fungsi Media Berbasis Visual
1.      Media visual dapat memperlancar pemahaman (misalnya melalui eleborasi struktur dan organisasi) dan memperkuat ingatan.
2.      Visual dapat menimbulkan minat siswa dan dapat memberikan hubungan antara isi materi pelajaran dengan dunia nyata.[3]
C.    Jenis-Jenis Media Visual Dua Dimensi
1.      Overhead Proyektor (OHP)
OHP ini ditemukan sejak tahun 1930-an yaitu sejak adanya penemuan lensa fresnal yang digunakan dalam OHP. Dalam perang dunia kedua penggunaan OHP sangat dirasakan sekali manfaatnya oleh angkatan bersenjata amerika serikat meningkatkan penggunaan OHP dalam penyampaian informasi pendidikan diiringi dengan kebutuhan teknis atau teknik penggunaannya.
Penggunaan OHP dalam dunia pendidikan mempunyai beberapa keuntungan , antara lain :
          Bersifat konkrit OHP dapat merangsang indera mata siswa disamping indera telinga melalui kata-kata guru, sehingga meteri yang disampaikan lebih konkrit.
          Mengatasi batas ruang dan waktu, benda-benda yang sulit dibawa ke dalam kelas dan kejadian-kejadian masa lampau dapat diperagakan melalui OHP.
          Mengatasi kelemahan-kelemahan panca indera, gerakan suatu objek yang terlalu cepat atau terlalu lambat yang tidak dapat diamati dengan sempurna, maka dengan membuat gambar diatas transparan dapat diatasidengan baik.
          Transparansi dapat ditulis saat OHP digunakan dan mengontrol siswa dengan mudah dapat dilakukan, karena guru dan siswa saling berhadapan.
          Dapat digunakan pada cahaya yang terang karena ohp menghasilkan cahaya yang kuat.
          Lebih efektif karena informasi yang disampaikan lebih banyak dalam waktu yang relatif singkat karena telah dipersiapkan terlebih dahulu dan dapat digunakan dengan teknik berlapis.
          Tidak terlalu menggunakan gerak fisik OHP dapat dihidupmatikan dan bagian yang belum disampaikan dapat ditutup dengan kertas.
          Dapat dipergunakan berulang-ulang atau dapat disimpan dan diambil bila akan digunakan kembali.
          Dapat digunakan bersama media lainnya seperti papan tulis dan lainnya.
          Dapat dipindah-pindah dari satu kelas ke kelas lainnya.
          Dapat disorotkan ke dinding yang berwarna terang bila tidak ada layar.
          Dapat menghasilkan warna bila diperlukan. [4] 
2.      Slide (film bingkai)
a.       Keunggulan
          Urutan gambar (film bingkai) dapat diubah-ubah sesuai dengan kebutuhan.
          Isi pelajaran yang sama yang terdapat dalam gambar-gambar film bingkai dapat disebarkan dan digunakan diberbagai tempat secara bersamaan.
          Gambar pada film bingaki tertentu dapat ditayangkan lebih lama dan membangun persepsi siswa yang sama terhadap konsep atau pesan yang ingin disampaikan.
          Film bingkai dapat ditayangkan pada ruangan masih terang (tidak perlu benar-benar gelap) jika tidak terdapat layar khusus, dinding pun dapat digunakan tempat proyeksi gambar.
          Film bingkai dapat menyajikan gambar dan grafik untuk berbagai bidang ilmu.
          Kepada kelompok atau perorangan dengan usia yang tiada terbatas.
          Film bingkai dapat digunakan sendiri atau di gabung dengan suara atau rekaman.
          Film bingkai dapat menyajikan peristiwa masa lalu atau peristiwa di tempat lain.
b.      Kelemahan
          Gambar atau grafik visual yang disajikan tidak bergerak.
          Film bingkai terlepas-lepas dan ini merupakan suatu titik keunggulan dan kelemahannya.
          Meskipun biaya produksinya tidak terlalu mahal film bingkai masih memerlukan biaya lebih besar daripada pembuatan media foto, gambar, grafik yang tidak diproyeksikan.
          Memerlukan keterampilan fotografi.
          Memerlukan peralatan khusus untuk pengambilan close-up dan mengcopi.
          Sering terbalik atau tertukar urutannya.[5]
3.      Filmstrip (film rangkai)
a.       Keunggulan
          Kompak, mudah dipakai dan selalu dalam urutan yang benar.
          Dapat ditambah narasi dengan control oleh guru.
          Tidak memerlukan peralatan yang besar dan berat.
          Dapat dipakai untuk belajar kelompok maupun individu.[6]
          Dapat dibuat oleh individu dengan biaya yang murah.
          Dapat dibuat berwana atau hitam putih.
          Relatif ringan dan mudah dibawa.
          Ukuran filmstrip dapat diubah-ubah menurut urutan waktu dan tempatnya. Urutan filmstrip dapat diperpendek atau diperpanjang sesuai dengan kebutuhan.[7]
b.      Kelemahan
          Sukar dibuat sendiri secara lokal.
          Memerlukan peralatan laboratorium yang dapat mengubah film bingkai menjadi film rangkai.
          Mempunyai susunan urutan yang permanen dan tidak dapat disusun kembali untuk keperluan lain.[8]
          Tidak dapat menunjukan pergerakan.
          Memerlukan sumber tenaga utama generotor yang handal dan pemeliharaan yang baik.[9]
4.      Penggunaan Media Visual Dua Dimensi
1.      Overhead proyektor (ohp/proyektor transparan)
Cara menggunakan ohp yaitu :
a.       Periksa sumber tegangan listrik dan sesuaikan tegangan pada peralatan yang akan digunakan.
b.      Hubungkan ohp dengan sumber listrik.
c.       Tekan tombol ON/OFF ke posisi ON.
d.      Letakkan transparansi pada posisi yang benar (diatas stage).
e.       Aturlah posisi lensa head asserably dari posisi ohp itu sendiri.
f.       Aturlah tombol pengatur fokus sehingga didapatkan hasil proyeksi yang jelas dan tajam (fokus).[10]
2.      Slide (film bingkai) dan film strip (film rangkai)
Teknik penggunaan slide dan film strip
a.       Langkah persiapan, pelajaran hendaknya ddisusun sebagai satu unit, serelah itu dipilih slide atau film strip yang cocok dengan pelajaran tersebut.
b.      Mempersiapkan kelas, kelas hendaknya dipersiapkan kearah penggunaan slide atau film strip.
c.       Mempersiapkan perlengkapan untuk penyajian yaitu perlu dilakukan pengujian terhadap proyektor yang akan digunakan.
d.      Penyajian, usahakan agar para siswa berpartisipasi aktif selama penyajian.
e.       Follow up : yakni yang berupa testing, demonstrasi dikusi, atau mempertunjukan kembali slide atau film strip bila dianggap perlu.
f.       Gunakan alat tepat pada waktunya.[11]


KESIMPULAN
Berdasarkan makalah yang telah kami buat ini, maka kami dapat menyimpulkan sedikit bahwa media visual dua dimensi adalah media yang sangat diperlukan dalam kegiatan belajar mengajar. Adapun macamnya dari media visual dua dimensi itu sendiri yaitu antara lain OHP, slide dan film strip. Dari ketiga macam media ini, telah kami jelaskan kurang lebihnya mengenai pengertian, kelebihan dan kelemahannya serta bagaimana penggunaannya dengan harapan agar para mahasiswa minimal mampu mengenal, lebih-lebih menguasai dengan sangat baik dalam hal penggunaannya untuk kegiatan belajar mengajar.
PENUTUP
Demikianlah makalah ini kami buat, semoga dapat bermanfaat. Kami sadar masih banyak kekurangan dan kesalahan yang kami buat, sehingga makalah ini dirasa masih kurang berbobot untuk disajikan. Kmi mohon maaf sebesar-besarnya. Terima kasih.


DAFTAR PUSTAKA
Arsyad, Azhar. 1997. Media Pengajaran. PT. Raja Grafindo Persada. Jakarta.
Asnawir. 2002. Media Pembelajaran. Ciputat Pers. Jakarta.
Dahim, Sudarwan. 1995. Media Komunikasi Pendidikan. PT. Bumi Aksara. Jakarta.
Miarso, Yusuf Hadi. 1986. Teknologi Komunikasi Pendidikan. CV. Rajawali. Jakarta.
Suprijanto. 2007. Pendidikan Orang Dewasa. PT. Bumi Aksara. Jakarta.



[1] Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain, Strategi Belajar  Mengajar, (Jakarta : PT. Rineka Cipta, 2006),  h. 124
[2] Asnawir M Basyirudin Usman, Media Pembelajaran, (Jakarta : Ciputat Pres, 2002), cet. I, h. 57
[3] Azhar Arsyad, Media Pengajaran, (Jakarta : PT. Grafindo Persada, 1997), cet. I, h. 89
[4] Asnawir Basyirudin usman, Op.Cit, h. 72
[5] Yusuf Hadi Miarso, dkk, Teknologi Komunikasi Pendidikan, Pengertian dan Penerapannya di Indonesia, (Jakarta : Pustekom Dikbud dan CV. Rajawali, 1986), h. 58
[6] Ibid, h. 58
[7] Suprijanto, Penelitian Orang Dewasa, (Jakarta : PT. Bumi Aksara, 2007), h. 177
[8] Yusuf Hadi Miarso, Op.Cit., h. 59
[9] Suprijanto, Op.Cit., h. 177
[10] Asnawir M Basyirudin, Op.Cit, h. 61
[11] Ibid, h. 81

a �&g ` �/$ denyut kembali, sekali pun syarafnya sudah tidak bekerja. Tanpa syaraf yang bekerja, manusia tidak lagi bisa dikatakan hidup.

e.       Hadits Nabi tersebut di dalam kitab Al – Mujazat Al – Nabawiyyah oleh syarif Ridha:
مَنْ كَسَبَ مَا لاَ مِنْ نَهَا وِشَ أَنْفَقَهُ فىِ نَهَا بِرِ
“Barang siapa mendapat harta benda dengan cara tidak wajar (tercela dan tidak halal), maka ia memakainnya untuk hal – hal yang terlarangdan tidk bermanfaat sama sekali baginya”.[5] 
Pantas dipersoalkan , apakah Carl Williams yang di-KO dalam waktu 93 detik wajar menerima bayaran 1,3 juta dolar, dan Mike Tyson  menerima 4 juta dolar untuk “kerja” yang hanya 11/2 menit lebih sedikit. Suatu bayaran yang tak ada tandingannya melebibhih aji presidennya sendiri di amerika serikat. Untuk apa hasil sebanyak itu? Untuk maksiat sesuai dengan sabda nabi itu!
f.       Last but not least, alasan Islam melarang tinju terutama yang professional, ialah karena bisa menjadi sarana perjudian yang sudah tentu mempunyai dampak yang sangat negatif bagi para pecandu judi, khususnya dan masyarakat pada umumnya. Sedangkan Islam melarang dengan tegas perjudian dalam segala bentuknya sebagaimana tersebut dalam al-Qur’an Surat Al – Maidah ayat 90 – 91, karena perjudian dapat menyebabka orang lengah /lalai pada kewajiban – kewajibannya terutama kewajban ibadahnya, dan bisa menimbulkanpermusuhan, kebencian dan kerawanan dalamm berbagai bidang kehidupan masyarakat (sosial, ekonomi, budaya, pendidikan, politik, keamanan, dan sebagainya).
Suatu hal sangat ironis, masyarakat padda umumnya peka dan kasihan melihat ayam, kucing, kambing, dan sebagainya yang sedang bertarung dan mereka segera berusaha menghentikan pertarungannya. Dan masyarakat pada umumnya juga tidak begitu suka tertarik melihat adu jago, apalagi ikut terlibat adu juga dengan taruhan/judi, karena menyadari perbuatan semacam itu adalah perbuatan kriminal dan tidak manusiawi. Teapi mengapa masyarakat pada umumnya bersikap berbeda menghadapi adu manusia (adu tinju), padahal menurut dunia kedokteran, bahwa tinju itu mempunyai probabilitas resiko fatal yang sangat tinggi bagi petinju (kelumpuhan dan kematian mendadak)
III.    PENUTUP
Setelah kita ketahui bahwasanya olah raga ini mengandung unsur positif pada cabang–cabang olah raga lain namun disini juga mengandung hal yang negatif dan bahayanya lebih besar untuk itu para pakar ulama mengambil dari sisi besar kecilnya hal itu.
Daftar Pustaka
Zuhdi, H. Masjfuk. 1997. Masail Fiqhiyah. Jakarta: LPT Toko Gunung Agung
Al-Siba’I, Ali. 1952. Al-Mursyid fi A- Din Al-Islami. Cairo: Al-‘Amiriyah
Dimyati, Haris. 1999. Qawaidul Fiqhiyah. Tremas: Pustaka



[1] Prof. Drs. H. Masjfuk Zuhdi, Masail Fiqhiyah, (Jakarta: LPT. Toko Gunung Agung,), h. 165
[2] Haris Dimyati, Al-Qawaidul Fiqiyah,h. 18
[3] Vide Ali al – Siba’i et. al., Al – Mursyid Fi al –din al Islami, vol. I cairo, Al – Amiriyah, 1952, hlm. 163 – 164
[4] Ibid. h. 20
[5] Vide Syarif Ridha, Al – Majazat al – Nabawiyyah, Cairo Muassasah Al – Halabi Wa Syurakauh, 1967, hlm. 1689 – 171

eR� n,e c � � style=’mso-special-character:footnote’>[3] M. Sugeng Solehuddin, Psikologi Perkembangan, (Pekalongan: STAIN Pekalongan, 2007), h. 39

[4] Drs. Sardjo, Psikologi Umum, (Jawa Timur: PT. Gaoeda Buana Indah, 1999), h. 68
[5] Drs. M. Yatimin Abdullah, M.A., Studi Akhlak dalam Perspektif Al-Qur’an, (Jakarta: Amzah, 2007), h. 2-4
[6] Drs. Wawan Kuewandi, Komunikasi Massa, h.
[8] Dr. Moh. Shochib, Pola Asuh Orang Tua, (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 1998), h. 86
Categories: Media Pendidikan | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: