MANAJEMEN KEPEMIMPINAN PENDIDIKAN


Kepemimpinan adalah subyek yang telah lama menarik perhatian banyak orang. Istilah yang mengkonotasikan citra individual yang kuat dan dinamis yang berhasil memimpin dibidang kemiliteran, perusahaan yang sedang berada di puncak kejayaan, atau memimpin negara dan memimpin sebuah Lembaga Pendidikan Islam. Kepemimpinan merupakan salah satu faktor yang sangat berperan dalam organisasi, baik buruknya organisasi seringkali sebagian besar tergantung pada faktor pemimpin, sedangkan faktor pemimpin yang sangat penting adalah karakter dari orang yang menjadi pemimpin tersebut. Secara definisi, kepemimpinan memiliki berbagai perbedaan pada berbagai hal, namun definisi kepemimpinan adalah adanya suatu proses dalam kepemimpinan untuk memberikan pengaruh secara sosial kepada orang lain, sehingga orang lain tersebut menjalankan suatu proses sebagaimana diinginkan oleh pemimpin.

Menurut Yukl (2005: 3) kepemimpinan adalah kekuasaan, wewenang, manajemen administrasi, pengendalian, dan supervisi yang juga menjelaskan hal yang sama dengan kepemimpinan semakin menambah kebingungan. Sedangkan menurut Stoner dkk (1996: 161) tampaknya senada dengan definisi sebelumnya, menurut mereka kepemimpinan adalah proses mengarahkan dan mempengaruhi aktivitas yang berkaitan dengan pekerjaan dari anggota kelompok. Kepemimpinan dipahami sebagai segala daya dan upaya bersama untuk menggerakkan semua sumber dan alat (resources) yang tersedia dalam suatu organisasi. Untuk itu dapat dikatakan bahwa sukses tidaknya suatu organisasi untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan sengat tergantung atas kemampuan pempinannya untuk menumbuhkan iklim kerja sama agar dengan mudah dapat menggerakkan sumber daya tersebut, sehingga dapat mendayagunakannya dan dapat berjalan secara efektif dan efisien.

Menurut pandangan Nanang Fattah (2009: 88) pemimpin pada hakikatnya adalah seseorang yang mempunyai kemampuan untuk mempengaruhi perilaku orang lain di dalam kerjanya dengan menggunakan kekuasaan. Kekuasaaan adalah kemampuan untuk mengarahkan dan mempengaruhi bawahan sehubungan dengan tugas-tugas yang harus dilaksanakannya. Semakin banyak jumlah sumber kekuasaan yang tersedia bagi pemimpin, maka makin besar potensi kepemimpinan yang efektif. Menurut kodrat serta irodatnya bahwa manusia dilahirkan untuk menjadi pemimpin. Sejak Adam diciptakan sebagai manusia pertama dan diturunkan ke bumi, ia ditugasi sebagai khalifah Allah di muka bumi ini. Sebagaimana firman Allah yang berbunyi:

Artinya:

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (QS. al-Baqarah: 30)

 

Menurut Dirawat dkk (1986: 23), dalam bukunya “Pengantar Kepemimpinan Pendidikan” yang menyatakan bahwa: Kepemimpinan berarti kemampuan dan kesiapan yang dimiliki oleh seseorang untuk dapat mempengaruhi, mendorong, mengajak, menuntun, menggerakkan dan kalau perlu memaksa orang lain agar ia menerima pengaruh itu dan selanjutnya berbuat sesuatu yang dapat membantu mencapai sesuatu maksud atau tujuan-tujuan tertentu. Pendapat ini memberi pengertian yang pada hakekatnya kepemimpinan itu adalah kemampuan dari seseorang pemimpin dalam mempengaruhi bawahan atau orang yang bekerja dengannya untuk mencapai tujuan atau memperoleh hasil maksimal. Dalam Islam tujuan yang ingin dicapai adalah mengandung adanya unsur amal ma’ruf nahi mungkar, hal ini sebagaimana firman Allah yang berbunyi:

Artinya:

Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, merekalah orang-orang yang beruntung” (QS. Ali-Imran: 104)

Kepemimpinan merupakan faktor manusiawi yang paling menentukan sukses tidaknya suatu organisasi, lembaga pendidikan maupun lembaga kenegaraan. Sebab kepemimpinan merupakan motor penggerak dan bertanggung jawab atas segala aktifitas dan fasilitas. Kepemimpinan menuntut kemampuan mengantisipasi tindakan-tinadakan yang berdasarkan pada perkiraan-perkiraan untuk menampung apa yang terjadi mengenai kelemahan-kelemahan serta mencapai suatu tujuan dan sasaran dalam waktu yang telah ditentukan. Kepemimpinan merupakan motor penggerak bagi sumber-sumber dan alat-alat manusia dan alat lainnya dalam organisasi. Demikian pentingnya peranan kepemimpinan dalam usaha mencapai tujuan suatu organisasi sehingga dapat dikatakan bahwa sukses atau kegagalan yang dialami sebagian besar ditentukan oleh kualitas kepemimpinan yang dimiliki oleh orang-orang yang diserahi tugas memimpin organisasi itu. Dalam Islam perilaku seorang pemimpin dalam kepemimpinya sangat menentukan mau dibawa kemana arah dari kepemimpinya. Bermacamnya krakter dan watak orang yang dipimpin, maka seorang pemimpin harus bijak dalam mengambil keputusan dalam rangka mencapai tujuan bersama yang telah ditetapkan. Seorang pemimpin harus bijaksana dalam menghadapi segala sesuatu yang terdapat dalam organisasi, sebagaimana firman Allah SWT yang berbunyi:

Artinya:

Serulah kejalan Tuhanmu dengan hikmah dan peringatan yang baik. Dan bantahlah mereka dengan (bantahan) yang lebih baik. Sungguh, Tuhanmu, ialah yang lebih mengetahui siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan ialah yang lebih mengetahui orang yang mendapat bimbingan. (QS. an-Nahl: 125)

Nawawi (1994:82), mengatakan bahwa kepemimpinan pendidikan adalah proses menggerakkan, mempengaruhi, memberikan motivasi, dan mengarahkan orang-orang di dalam organisasi atau lembaga pendidikan tertentu untuk mencapai tujuan yang telah dirumuskan sebelumnya. Untuk mewujudkan tugas terebut, setiap pimpinan pendidikan harus mampu bekerja sama dengan orang-orang yang dipimpinnya untuk memberikan motivasi agar melakukan pekerjaannya secara ikhlas. Dengan demikian, seorang pemimpin pendidikan harus memiliki jiwa kepemimpinan dalam mengembangkan sumber daya manusia lembaga pendidikan. Dari beberapa pendapat tersebut di atas, tentang pengertian kepemimpinan pendidikan, maka dapat penulis simpulkan bahwa yang dimaksud dengan kepemimpinan pendidikan adalah kemampuan seseorang dalam mempengaruhi, mengkoordinir, menggerakkan, memberikan motivasi dan mengarahkan orang-orang dalam lembaga pendidikan agar pelaksanaan pendidikan dapat lebih efisien dan efektif dalam mencapai tujuan-tujuan pendidikan yang telah dirumuskan.

Setelah membahas tentang kepemimpinan pendidikan Islam, sebagaimana telah penulis jelaskan di atas, kemudian penulis mencoba menjelaskan hubungan kepemimpinan, manajemen, administrasi dan organisasi pendididkan. Dalam pengembangan dan pengelolaan lembaga pendidikan Islam, maka unsur-unsur atau komponen-komponen yang ikut andil dalam mempengaruhi tidak bisa dipisahkan satu sama lainnya, karena satu sama lain saling berhubungan dan berkaitan dalam memaju lembaga pendidikan. Komponen-komponen tersebut antara lain, kepemimpinan, manajemen, administrasi dan organisasi. Empat komponen ini, dalam pandangan penulis, saling berhubungan dalam mengembangkan lembaga pendidikan terutama pengembangan sumber daya manusainya. Misalnya kita ambil contoh, Universitas Islam Negeri Maliki Malang (UIN Maliki Malang), lembaga ini tidak akan bias berkembang dengan baik sesuai dengan visi dan misi dari lembaga tersebut tanpa memiliki kepemimpinan yang bagus. Kepemimpinan merupakan penggerak dari organisasi untuk mengembangkan organisasi yang lebih unggul sesuai dengan visi dan misa yang telah disusun. Sedangkan manajemen dan administrasi, merupakan salah satu sarana untuk mengelola oraganisasi dengan baik. Tanpa adanya manajemen dan administrasi yang bagus dan kuat, maka lembaga akan sulit untuk berkembang dan maju. Dalam sebuah organisasi, apabila telah memiliki manajemen dan administrasi yang bagus, tidak akan bias mengantarkan organisasi untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan tanpa dipimpin oleh pemimpin yang baik pula. Organisasi yang baik adalah organisasi yang memliki pemimpin, manajemen dan admninistrasi yang baik pula, tanpa itu organisasi tidak akan bias maju dengan baik.

Visi dan misi sekolah merupakan unsur utama dalam organisasi, yang akan menggerakkan ke mana sekolah akan memusatkan segala aktivitasnya. Sekalipun visi sangat bersifat abstrak dalam bentuk suatu harapan dan nilai yang akan dicapai organisasi, tetapi mampu mewarnai kultur dan iklim organisasi. Sehingga sekolah yang mempunyai visi organisasi yang jelas akan mampu untuk merencanakan serangkaian aktivitas organisasi menuju tercapainya visi tersebut.[1] Visi sekolah sebagai pengemban visi pendidikan hendaknya memberikan warna yang kuat pada sekolah agar semua kativitas pendidikan untuk meningkatkan kualitas sekolah dan siswa. Sehingga upaya-upaya proses manajemen dalam sekolah baik yang menyangkut efesiensi dan efektifitas tidak mengurangi arti penting pelaksanaan pendidikan, utamanya bagi peningkatan kualitas pengajaran dan pembelajaran yang akhirnya akan bermuara pada peningkatan mutu pendidikan.

Visi, misi, core beliefs, core values dan tujuan sekolah yang baiktentunya akan menumbuhkan komitmen semua anggota organisasi terhadap sekolah itu sendiri. Sikap seperti ini tentunya akan diharapkan dapat menciptakan iklim dan budaya sekolah yang positif bagi pertumbuhan sekolah. Untuk itulah bahwa visi, misi, core beliefs, core values dan tujuan sekolah yang mempunyai karakteristik meliputi: menantang, mudah diingat, dapat menggerakan organisasi, mobilisasi kebutuhan, dapat diterjemahkan sebagai arah aktivitas sehari-hari, berkaitan dengan kebutuhan siswa. Apabila lima komponen tersebut yang baik, maka akan dapat menciptakan iklim organisasi yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan sekolah. Hubungan antara visi, misi, core beliefs, core values dan tujuan sekolah memiliki hubungan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Apbila visi, misi, core beliefs dan core values yang baik akan menghasilkan tujuan sekolah yang baik pula, sehingga semua komponen tersebut saling berhubungan dalam mencapai tujuan sekolah yang telah ditetapkan. Namun, dari lima komponen tersebut, keberadaan visi suatu organisasi sangat menentukan kemana arah dari organisasi tersebut. Visi merupakan penggerak dari organisasi dalam mencapai tujuan sekolah. Dengan demikian, dapat penulis simpulkan bahwa hubungan antara visi, misi, core beliefs, core values dan tujuan sekolah tidak bisa dipisahkan karena semua itu merupakan penggerak dalam rangka untuk mencapai tujuan sekolah yang telah ditetapkan yang tertuang dalam visi dan misi sekolah.

Tatkla seseorang berposisi sebagai manager lembaga pendidikan Islam, sudah barang tentu di benaknya tergambar bahwa tugas yang harus diemban adalah memajukan lembaganya, dengan cara menggerakkan seluruh potensi yang ada guna mencapai tujuan yang dinginkan.[2] Pemimpin perlu menciptakan strategi yang tepat dan didukung dengan tim yang kuat agar dapat mencapai target yang diinginkan, selain itu perlu direncanakan dengan baik bagaimana cara melakukannya dan karena nantinya bisa saja sesuatu yang telah direncanakan dan dilaksanakan dengan baik, namun jika gagal dalam mengendalikan emosinya tidak mustahil akan gagal pula dalam bekerja, sehingga tujuan yang dikehendaki tidak tercapai.[3] Jika mengacu pada pernyataan Ralph Waldo Emerson mengatakan “Setiap institusi besar adalah perpanjangan bayangan-bayangan seorang individu. Karakternya menentukan karakter organisasi”. Berdasarkan pernyataan Ralph Waldo Emerson tersebut mengindikasikan bahwa berkembang dan majunya suatu organisasi sangat tergantung pada kepribadian pemimpinya. Sentuhan tangan dingin seorang pemimpin sangat menentukan terhadap perkembangan organisasinya. Seorang pemimpin harus memiliki jiwa kepemimpinan dan seni mempengaruhi orang lain dalam rangka untuk menggerakkan dan maju oragnisasi. Sorang pemimpin mempunyai peran aktif dalam meningkatkan kualitas organisasinya sehingga ia diharuskan memiliki kemampuan leadership yang baik sebab, kepemimpinan yang baik dalam organisasi adalah yang mampu dan dapat mengelola semua sumber daya organisasi untuk mencapai tujuan organisasi baik dari sisi proses pengelolaan maupun pengembangan sumber daya manusia. Jauh sebelum Ralph Waldo Emerson, Rasulullah Muhammad saw telah mempratikan hal tersbut kepada para sahabatnya tatkala beliau membangun kota Madinah. Sebuah organisasi tidak akan berubah, tidak akan maju dan berkembang jika seorang pemimpinnya tidak mau merubah dan memajukan organisasi tersebut. Hal ini jauh sebelum pernyataan Ralph Waldo Emerson di atas, Allah SWT telah menjelaskan dalam firman-Nya yang berbunyi:

Artinya:

Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, Maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia. (QS. Ar-Ra’du: 11)

Ayat ini menjelakan kepada kita bahwa berkembang dan maju suatu organisasi sangat tergantung dengan pemimpinnya untuk merubah keadaan yang ada pada organisasi tersebut. Misalnya, penulis contohkan UIN Maliki Malang dari IAIN Cabang Tarbiyah Malang berubah menjadi Universita Islam Negeri Maliki Malang merupakan suatu hal yang luar biasa yang dilakukan oleh pemimpinnya untuk berubah. Mungkin apa yang dilakukan oleh Rektor UIN Maliki Malang Prof. Dr. H. Imam Suprayogo adalah mengamalkan dari firman Allah SWT tersebut. Sehingga perkembangan UIN Maliki Malang sangat identik dengan kepemimpinan Prof. Dr. H. Imam Suprayogo selaku Rektor. Dengan demikian, penulis tidak heran apa yang telah diungkapkan oleh Ralph Waldo Emerson tersebut. Oleh karena itu, dapat penulis simpulkan bahwa maju tidaknya suatu organisasi/lembaga pendidikan tergatung dengan pemimpinnya untuk mau melakukan perubahan.

Kepemimpinan diartikan sebagai kemampuan dan keterampilam seseorang yang menduduki jabatan sebagai pemimpin satuan kerja untuk mempengaruhi perilaku orang lain, terutama bawahannya, untuk berpikir dan bertindak sedemikian rupa sehingga melalui yang positif ia memberikan sumbangan nyata dalam pencapaian tujuan organisasi.[4] Kepemimpinan merupakan perilaku untuk mempengaruhi individu atau kelompok untuk melakukan sesuatu dalam rangka tercapainya tujuan organisasi. Penerapan model kepemimpinan yang dilakukan oleh pemimpin suatu lembaga pendidikan sangat mempengaruhi perkembangan dan kemajuan lembaga tersebut. Universitas Islam Negeri (UIN) Maliki Malang misalnya, maju dan berkembang seperti sekarang ini tidak lepas dari peran dan strategi yang dilakukan oleh pemimpinnya baik itu Rektor, Dekan Fakultas maun Ketua jurusan sangat mempengaruhi terhadap kemajuan lembaga UIN Maliki Malang sekarang ini.

Kepemimpinan Kharismatik

Nilai-nilai kepribadian yang memiliki standar kepemimpinan dalam diri seorang pemimpin merupakan kunci kesuksesan dan keberhasilan dalam lembaga yang bersangkutan. Keberhasilan dan kesuksesan suatu lembaga, organisasi,  baik itu dalam tatanan non birokrasi maupun dalam taraf birokrasi, adalah sangat tergantung kepada kepribadian seorang pemimpin itu sendiri. Kepribadian yang cukup signifikan dalam diri seorang pemimpin dalam menyukseskan kepemimpinannya adalah kepribadian yang mampu tampil sebagai sosok yang memiliki nilai-nilai yang cukup luar biasa, kepribadian yang memiliki kelebihan baik secara psikis maupun mental, kepribadian yang memiliki aura yang mampu menghipnotis pengikutnya ataupun bawahannya sehingga setiap perintah, suruhan, peringatan selalu dituruti yang kadangkala tanpa memperhatikan rasionalitas dari perintah itu Model kepribadian seperti itu adalah merupakan tipologi kepemimpinan yang kharismatik.

Sebuah kepemimpinan yang memiliki aura yang luar biasa, kepemimpinan yang mampu melaksanakan tugasnya  dengan baik, yang dalam dirinya terkandung jiwa yang hebat, memiliki kewibawaan yang ditakuti dan popularitas yang disegani. Kepemimpinan seperti ini, merupakan ujung tombak dan titik pangkal bagi para pengikut dan bawahannya, mereka akan melaksanakan segala sasuatu tanpa pamrih, penuh semangat dengan keuletan yang tinggi serta dedikasi yang mantap. Jika kita mengambil contoh kepemimpinan yang memiliki kharisma seperti ini, maka Nabi Muhammad saw adalah contoh seorang pemimpin kharismatik yang ideal sepanjang zaman dan merupakan uswatun hasanah bagi semua pemimpin yang ada sekarang ini, sebagaimana Allah SWT jelaskan dalam Firman-Nya yang berbunyi:

Artinya:

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang-orang yang mengharapkan (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak mengingat Allah (QS. Al-Ahzab: 21)

Dalam ayat  tersebut, dapat penulis jelaskan bahwa  kepemimpinan kharismatik yang diterapkan oleh Rasulullah saw dalam mendakwakan Islam memiliki pengaruh yang besar terhadap perkembangan dan kemajuan Islam zaman itu hingga sampai sekarang. Kepemimpinan kharismati inilah yang kemudian diimplemetasikan oleh pengembangan UIN Maliki Malang oleh para pemimpinnya banyak berpedoman pada kepribadian dan kepemimpinan Rasulullah saw. Conger dan Kanungo ( 1987 ) menyatakan bahwa kepemimpinan kharismatik pada hakekatnya berdasar pada asumsi, bahwa kharisma merupakan sebuah fenomena yang berhubungan dengan Atribusional, jadi menurut teori ini atribusi dari pengikut dari kwalitas kharismatik bagi seorang pemimpin adalah ditentukan oleh perilaku, keterampilan pimpinannya dan aspek siatuasi. Atribusi pengikut dari charisma seorang pemimpin hanya bergantung kepada beberapa bagian perilaku pemimpin sehingga atribusi itu bergantung sampai pada batas-batas situasi kepemimpinannya yang dalam kepemimpinannya tidak mendukung status Quo.[5]

Dari penjelasan tersebut dapat penulis simpulkan bahwa, seorang pemimpin pada hakekatnya adalah merupakan agen perubahan yang terpenting dan diantara upaya untuk menggapai itu semua adalah dengan menerapkan kepemimpinan kharismatik. Dalam Islam, Kepemimpinan Kharismatik ( Spiritual Leadership ) di artikan sebagai kepemimpinan yang sangat menjaga nilai-nilai etis, nilai moral yang luhur serta menjaga nilai-nilai spiritual yang ada dibalik posisinya sebagai pemimpin. Pemimpin macam ini melakukan aktifitasnya benar-benar hanya memuaskan hati pengikutnya  melalui pemberdayaan, memulihkan, menguntungkan dan juga tidak hanya mampu memberikan keuntungan  finansial saja, akan tetapi hati, jiwa,  mereka juga dihibur sehingga termotivasi dengan pekerjaan yang efektif, efisien dan produktif

Kepemimpinan Visioner

Kepemimpinan visioner merupakan kepemimpinan yang memberikan partisipasi guru, siswa, dan orang tua secara bersama-sama untuk untuk memajukan lembaga pendidikan/sekolah. Berkaitan dengan fungsi kepala sekolah sebagai administrasi pendidikan, pimpinan pendidikan dan supervisor pendidikan. Untuk itulah peran kepemimpinan kepala sekolah akan mengarah pada pengelolaan aspek manejerial pendidikan yang berkaitan dengan kesejahteraan guru dan karyawan, fasilitas pembelajaran dan pendukung pendidikan lainnya. Ini artinya bahwa kepala sekolah harus mampu mengakomodasi semua pihak yang memungkinkan akan membantu atau mendukung bagi tercapainya kualitas pendidikan. Maka untuk melakukan hal tersebut, dibutuhkan tipe kepemimpinan visioner. Dimana kepemimpinan kepala sekolah mampu membangun visi sekolah yang berwawasan pendidikan dengan memberikan keterlibatan semua komponen sekolah dalam mencapai visi organisasi yang diharapkan. Karakteristik kepemimpinan visioner akan membangun organsasi yang berwawasan masa depan dengan landasan dasar pada artikulasi visi dan misi dalam budaya organisasi.

Kepemimpinan Transformasional dan Cultural

Transformasional para pemimpin merangsang para pengikut untuk mampu berinovasi dan kreaktif, keluar dari permasalahan pelik dan mendekati situasi dalam menemukan jalan baru. Bass (1998) dan Avolio (1999) menetapkan bahwa kepemimpinan transformasional dan cultural membentuk basis suatu sistem kepemimpinan yang mendukung.[6] Karakteristik-karakteristik kepemimpinan transformasional dan cultural antara lain yaitu:[7]

  1. Karisma: memberikan visi dan rasa misi, menanamkan kebanggaan, memperoleh respek dan kepercayaan.
  2. Inspirasi: mengkomunikasikan harapan yang tinggi, menggunakan lambang-lambang untuk mempokuskan upaya, mengungkapkan maksud-maksud penting dalam cara yang sederhana.
  3. Rangsangan Intelektual: menggalakkan kecerdasan, rasionalitas, dan pemecahan masalah yang teliti.
  4. Pertimbangan yang diindividualkan: memberikan perhatian pribadi, memperlakukan setiap orang secara indinidual, melatih dan menasehati.

Kepemimpinan Partisipatif dan Pendelegasian

Kepemimpinan yang partisipatif memberikan ruang peran secara bermakna pada para bawahan (guru dan staf) dalam menjalankan aktivitas lembaga serta proses pengambilan keputusan.  Keputusan partisipatif tidak bersifat sepihak, karena keputusan itu timbul dari upaya konsultasi dengan para guru dan pegawai serta keikut sertaan mereka. Dalam hal ini, pemimpin menghargai masukan berguna yang diberikan oleh para guru dan bukan tidak mungkin masukan mereka dijadikan landasan penentuan keputusan. Ada beberapa unsur penting dan tidak mungkin dipisahkan yang membentuk kepemimpinan partisipatif. Beberapa unsur penting tersebut adalah konsultasi, pengambilan keputusan bersama, pembagian kekuasaan, desentralisasi, serta manajemen yang bersifat demokratis. Kepemimpinan partisipatif (particivative leadership) adalah suatu kepemimpinan yang memberikan seperangkat aturan untuk menentukan ragam dan banyaknya pengambilan keputuan partisipatif dalam situasi-situasi yang berlainan. Kepemimpinan partisipatif memberikan suatu perangkat urutan aturan yang seharusnya diiukuti untuk menentukan ragam dan banyaknya partisipatif yang diinginkan dalam pengambilan keputusan.[8]

Dengan demikian, dapat penulis simpulkan bahwa penerapan tipe kepemimpinan dalam lembaga Universitas Islam Negeri (UIN) Malik Malang yang cocok adalah tipe kepemimpinan kharismatik dan kepemimpinan visioner sebab sesok seorang pemimpin harus memilki karisma atau suri tauladan dan uswah hasanah dalam memimpin lembaganya. Kepemimpinan kharismatik akan berjalan dengan baik apabila seorang pemimpin juga memiliki jiwa visioner kedepan untuk memajukan lembaga yang dipimpinnya. Kepemimpinan kharismati dan visioner inilah yang terdapa pada diri Rasulullah Muhammad saw dalam memimpin negara dan memimpin umat manusia. Pemeberian teladan yang baik, pada zaman modern ini sangat dibutuhkan demi memajukan dan mengembangkan lembaga yang dipimpin. Hal sebagaiman telah Allah SWT  jelaskan dalam firman-Nya yang berbunyi:

Artinya:

Sesungguhnya Telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (QS. al-Ahzab: 21)

Kepemimpinan muncul bersama-sama adanya peradapan manusia; yaitu sejak nenek moyang manusia itu berkumpul bersama, bekerja bersama-sama untuk mempertahankan eksistensi hidupnya menantang kebuasan binatang dan alam disekitarnya. Sejak itulah terjadi kerjasama antar-manusia dan ada unsur kepemimpinan. Pada saat itu, yang ditunjuk sebagai pemimpin ialah orang-orang yang paling kuat, paling cerdas, dan paling berani. [9]

Pemimpin memiliki peran yang dominan dalam suatu masyarakat, peranan yang dominan tersebut dapat mempengaruhi moral, keamanan, kualitas kehidupan dan terutama tingkat prestasi suatu organisasi. Sebagaimana dikatakan Hani Handoko bahwa pemimpin juga memainkan peranan kritis dalam membantu kelompok organisasi, atau masyarakat untuk mencapai tujuan mereka.[10]

Secara bahasa makna kepemimpinan itu ialah kekuatan dan kualitas seorang pemimpim dalam mengarahkan apa yang dipimpinnya untuk mencapai tujuan. Seperti halnya menejemen, kepemimpinan atau leadership telah banyak di definisikan oleh banyak para ahli diantaranya adalah Stooner mengemukakan bahwa kepemimpinan menejerial dapat di definisikan sebagai suatu proses mengarahkan pemberian pengaruh kepada kegiatan-kegiatan dari sekelompok anggota yang selain berhubungan dengan tugasnya.

Disinilah peranan pemimpin berpengaruh besar dalam pembentukan prilaku bawahan. Menurut Handoko kepemimpinan merupakan kemampuan seseorang untuk mempengaruhi orang lain agar mencapai tujuan dan sasaran.[11]

Dari beberapa definisi diatas dapat ditarik kesimpulan: bahwa seorang pemimpin adalah pribadi yang memiliki kecakapan khusus, dengan atau tanpa pengangkatan resmi dapat mempengaruhi kelompok yang dipimpinya, untuk melakukan usaha bersama mengarah pada pencapaian sasaran-sasaran tertentu.[12]

Sejarah dan sebab munculnya pemimpin

Kepemimpinan muncul sejak nenek moyang manusia berkumpul bersama, berkerja bersama-sama untuk mempertahankan eksistensi hidupnya. Sejak itulah terjadi kerjasama antar-manusia dan ada unsur kepemimpinan. Pada saat itu, yang ditunjuk sebagai pemimpin ialah orang-orang yang paling kuat, paling cerdas dan paling berani.

Tentang sebab-musabab munculnya pemimpin, ada tiga teori yang menjelaskan kemunculan pemimpin ialah:[13]

1.  Teori genetik menyatakan:

a)      Pemimpin itu tidak dibuat, akan tetapi lahir jadi pemimpin oleh bakat-bakatnya yang luar biasa sejak lahirnya.

b)      Dia ditakdirkan lahir jadi pemimpin, dalam situasi-kondisi yang bagaimanapun juga.

c)      Secara filsafi, teori tersebut menganut pandangan yang deterministik dan fatalistik.

2.  Teori sosial (lawan teori genetik) menyatakan:

a)      Pemimpin-pemimpin itu harus disiapkan dan dibentuk, tidak terlahrkan saja.

b)      Setiap orang bisa jadi pemimpin, melalui usaha panyiapan a pendidikan.

3. Teori ekologi (muncul sebagai reaksi dari kedua teori tersebut) menyatakan:

a)      seorang akan sukses menjadi pemimpin, bila sejak lahirnya dia telah memiliki bakat-bakat kepemimpinan, dan bakat-bakat ini sempat dikembangkan melalui pengalaman dan usaha pendidikan, juga sesuai dengan tuntunan lingkungan/ekologisnya.

Tipe dan gaya kepemimpinan

Banyak studi dilakukan orang mengenai kepemimpinan, dan hasilnya berupa macam-macam teori tentang kepemimpinan. Teori-teori yang dihasilkan menunjukkan perbedaan dalam: 1) pendapat dan urainya, 2) methodologinya, 3) interpretasi yang diberikan, 4) kesimpulan yang ditarik. Setiap teoritikus mempunyai segi penekananya sendiri, dipandang dari satu aspek tertentu; dan para penganutnya berkeyakinan bahwa teori itulah yang paling benar dan paling tepat.

Dalam kegiatan menggerakkan atau memberi motivasi orang lain agar melakukan  tindakan-tindakan yang selalu terarah pada pencapain tujuan organisasi. Cara itu mencerminkan sikap dan pandangan pemimpin terhadap orang yang dipimpinnya, yang memberikan gambaran pula tentang bentuk (tipe) kepemimpinan yang dijalankanya. Secara teoritis bentuk kepemimpinan itu adalah:

1. tipe otokratis. Otokrat berasal dari autos = sendiri; dan kratos = kekuasaan, kekuatan.jadi otokrat berarti: penguasa absolut. Kepemimpinan dan paksaan yang selalu yang selalu harus dipatuhi. Pemimpinnya selalu mau berperan sebagai ”pemain tunggal” pada ”a one-man show”. Bentuk kepemimpinan ini adalah yang paling banyak dikenal tergolong yang paling tua. Kepemimpinan ini menempatkan kekuasaan di tangan seseorang atau sekelompok kecil orang yang disebut atasan sebagai penguasa. Sejumlah orang lain yang dipimpin jumlahnya lebih banyak disebut bawahan yang kedudukanya tidak lebih daripada pelaksana kehendak atau keputusan atasan. Pihak atasan memandang dirinya lebih dalam segala hal dibandingkan dengan pihak bawahan yang kualitas kemampuanya dipandang jauh di bawah kemampuan atasanya. Pihak atasan bertindak sebagai penguasa atau penentu yang tidak dapat dibantah dan orang lain harus tunduk pada kekuasaanya dengan mempergunakan ancaman dan hukuman sebagai alat dalam menjalankan kepemimpinanya.[14] Cara memimpin yang dikembangkan disebut ”working on his group” kegiatan hanya melaksanakan perintah atasan. Bawahan tidak diberi kesempatan untuk berinisiatif dan mengeluarkan pendapat-pendapatnya. Kreativitas dalam bekerja dipadang sebagai penyimpangan. Keputusan atasan dipandang sebagai sesuatu yang terbaik, oleh karena itu harus dilaksanakan tanpa komentar dan pertanyaan-pertanyaan. Pelaksanaan yang tidak sesuai instruksi dianggap sebagai penyelewengan, walaupun bersifat perbaikan yang mengakibatkan kesempurnaan kerja.kesalahan itu tidak boleh tidak harus dijatuhi sanksi, dengan maksud agar tidak diulangi atau terjadi lagi. Hanya atasan yang boleh berfikir tentang kegiatan yang akan dilaksanakan, yang pada giliranyaditetapkan sebagai keputusan sebagai hak monopoli dari atasan.[15]

2. Tipe Paternalistik dan maternalistik Yaitu tipe kepemimpinan yang kebapakan, dengan sifat-sifat antara lain sebagai berikut:

  1. dia mengangap bawahanya sebagai manusia yang tidak/belum dewasa.
  2. dia bersikap terlalu melindungi (over protective)
  3. dia jarang memberikan kesempatan kepada bawahanya untuk mengambil keputusan sendiri.
  4. Dia tidak pernah memberikan kesempatan kepada bawahanya untuk berinisiatif.
  5. Selalu bersikap maha tahu dan maha-benar.

Tipe kepemimpinan yang maternalistis juga mirip dengan tipe yang paternalistik, hanya dengan perbedaan: adanya sikapnover-protektif atau terlalu melindungi yang lebih menonjol, dan disertai kasih sayang belebih-lebihan.[16]

3. Tipe meliteristis. Bahwa tipe kemimpinan militeristik itu berbeda sekali dengan seorang pemimpin organisasi militer. Adapun sifat-sifat pemimpin yang miletistik antara lian ialah:

  1. lebih banyak menggunakan sistem perintah atau komando terhadap bawahanya.
  2. Menghendaki kepatuhan muthlak dari bawahanya.
  3. Menuntut adanya disiplin keras dan kaku dari bawahanya
  4. Tidak menghendaki saran-saran dan kritikan-kritikan dari bawahanya.

4. tipre kharismatik. Tipe ini memiliki daya tarik dan pembawa yang luar biasa, sehingga ia mempunyai pengikut yang jumlahnyya sangat besar. Sampai sekarangpun orang tidak mengetahui sebab-sebabnya, mengapa seseorang itu memiliki kharisma begitu beesar. Dia dianggap mempunyai kekuatan ghaib dan kemampuan-kemampuan yang superhuman, yang diperoleh dari kekuatan yang maha kuasa, totalitas kepribadian pemimpin itu memancarkan pengaruh dan daya tarik yang teramat besar. Tokoh-tokoh besar semacam itu antara lain: jengis khan, gandhi, soekarno, dll.

5. Tipe laisser faire. Dalam tipe kepemimpina ini sebenarnya pemimpin tidak memberikan pimpinan. Tipe ini diartikan sebagai membiarkan orang-orang berbuat sekehendaknya. Pemimpin sama sekali tidak memberikan kontrol dan koreksi terhadap pekerjaan anggota-anggotanya, kelompok tanpa petunjuk atau saran-saran dari pimpinan. Kekuasaan dan tanggung jawab bersimpang-siur, berserakan di antara anggota-anggota kelompok, tidak merata. Dengan demikian, mudah terjadi kekacauandan benterokan-benterokan. Tingkat keberhasilan organisasi atau lermbaga yang dipimpin dengan gaya laisser faire semata-mata disebabkan karena kesadaran dan dedikasi beberapa anggota kelompok, dan bukan karena pengaruh dari pemimpinnya.[17] Di dalam tipe kepemimpina ini, biasanya stluktur organisasinya tidak jelas dsan kabur. Segala kegiatan dilakukan tanpa rencana yang terarah dan tanpa pengawasan dari pimpinan.

6. Tipe populistik. Kepemimpinan yang dapat membangun solidaritas rakkyat, misalnya sukarno dengan ideologi marhaenismenya, yang menekankan maslah kesatuan nasional, nasionalisme dan sikap yang yang berhati-hati terhadap penindasandan penguasaan kekuatan asing. Kepemimpinan populistik ini berpegang teguh pada nilai-nilai masyarakat yang tradisional, lebih banyak dan kurang mempercayai bantuan serta dukungan kekuatan luar negeri. Kepemimpinan jenis ini mengutamakan penghidupan nasionalisme.

  1. Tipe administratif. Kepemimpinan yang mampu menyelenggarakan administratif yang efektif. Sedang para pemimpinya terdiri dari pribadi-pribadi yang mampu mmenggerakkan dinamika modernisasi dan pembangunan. Dan denagan demikian dapat dibangun sistem administratif dan birokrasiyang efiisisen untuk memerintah, khususnya untuk memantapkan integritas bangsa pada khususnya dan usaha-usaha pembangunan pada umumnyya. Dengan kepemimpinan administratif ini diharapkan adanya perkembangan teknis yaitu tehnologi, industri dan management modern dan perkembangan sosial ditengan masyarakat.
  2. Tipe demokratis. Bentuk kepemimpinan ini menempatkan manusia sebagai faktor utama dan terpenting. Hubungan antara pemimpin dan orang-orang yang dipimpin diwujudkan dalam bentuk human relatiionship yang didasari prinsip saling menghargai dan saling menghormati. Kepemimpinan demokratis adalah kepemimpinanyang aktif, dinamis dan terarah yang berusaha memanfaatkan setiap orang untuk kepentingan kemajuan dan perkembangan organisasi. Saran-saran, pendappat-pendapat dan kritik-kritik setiap anggota disalurkan dengan sebaik-baiknya dan diusahakan memanfaatkanya bagi pertumbuhan dan kemajuan organisasi sebagai perwujutan tanggung jawab bersama.

[1] Jurnal el-Harakah, Penguatan Organisasi Sekolah Melalui Pendekatan Terpadu, Malang: Fakultas Tarbiyah  UIN-Malang, 2003 Edisi 59, hlm. 30

[2] Prof. Dr. H. Imam Suprayogo, Pendidikan Berbaradigma al-Qur’an, Malang: Aditya Media-UIN-Malang Press, 2004, hlm. 153

[3] Prof. Dr. H. Veithzal Rivai, Ir. H. Arviyan Arifin, Islamic Leadership, Membangun SuperLeadership Melalui Keceerdasan Spritual, Jakarta: Bumi Askara, 2009, hlm. 26

[4] Prof. Dr. H. Veithzal Rivai, Dr. Hj. Sylviana Murni, Education Management, Analisis Teori dan Praktik, Jakarta: Rajawali Press, 2009, hlm 745

[5] Gary Yukl, Kepemimpinan Dalam Organisasi, Leadership In Oragnization, Jakarta: PT. Indeks, 2009, hlm. 290

[6]  Prof. Dr. H. Veithzal Rivai, Dr. Hj. Sylviana Murni, Education Management, Analisis Teori dan Praktik, Jakarta: Rajawali Press, 2009, hlm 278

[7] Prof. Dr. H. Veithzal Rivai, Ir. H. Arviyan Arifin, Islamic Leadership, Membangun SuperLeadership Melalui Keceerdasan Spritual, Jakarta: Bumi Askara, 2009, hlm. 125-126

[8]  Prof. Dr. H. Veithzal Rivai, Ir. H. Arviyan Arifin, Islamic Leadership, Membangun SuperLeadership Melalui Keceerdasan Spritual, Jakarta: Bumi Askara, 2009, hlm. 123

[9] Kartini Kartono,  1983. Pemimpin dan Kepemimpinan. Jakarta: C.V. Rajawali, hal. 28

[10] Hani Handoko,  1999. Menejemen. Edisi Ke-2, hal. 293

[11] Ibid, hal. 294

[12] Kartini Kartono,  Op.cit, hal. 35

[13] Ibid, hlm. 29

[14] Hadari. Nawawi, 1985, Administrasi Pendidikan, Jakarta: PT Gunung Agung, hlm. 92

7 Ibid.

[16] Kartini. Kartono, Opcit, hlm. 52

[17] Ngalim.Purwanto, 2006, administrasi dan supervisi pendidikan, Bandung: PT Remaja Rosdakarya, hlm. 49

Categories: Pendidikan Islam | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: