Masailul Fiqhiyah

Bayi Tabung Dalam Perspektif Islam


A.      Pengertian Bayi Tabung
Para ahli berbeda pendapat dalam mengartikan bayi tabung antara lain yaitu; bayi tabung menurut Prof. Sarwono diartikan mani seorang laki-laki yang dikumpulkan terlebih dahulu, lalu dimasukkan ke dalam alat kandungan seorang wanita yang kemudian dinamakan permanian buatan (insenmination articificialis). Kemudian H. Ali Akbar mengartikan bayi tabung ialah membuahi istri tanpa junub yang dilakukan dengan pertolongan dokter. Sedangkan Anwar dan Raharjo mengartikan bayi tabung ialah usaha jalan pintas untuk mempertemukan sel sperma dengan sel telur di luar tubuh (invitro fertilization). Setelah terjadi konsepsi, hasil tersebut dimasukkan kembali ke dalam rahim ibu (embrio transfer) sehingga dapat tumbuh menjadi janin sebagaimana layaknya kehamilan biasa. Oleh karena pembuahannya dilakukan di tabung gelas, maka lazim disebut bayi tabung atau dengan istilah lain inseminasi buatan.
Inseminasi buatan di masa kini tidak lagi hanya untuk menolong pasangan infertile bahkan sekarang motivasi percobaan bayi tabung adalah untuk mendapatkan anak super. Untuk maksud tersebut tidak lagi digunakan sperma suami dari wanita yang menginginkan anak, melainkan dari sperma laki-laki lain yang lazim disebut donor.
Untuk memenuhi permintaan wanita yang menginginkan sperma donor, maka didirikanlah bank-bank sperma. Misalkan di California berdiri bank sperma Escondido dan juga di Inggris, lebih jauh lagi mulai timbul inisiatif “ibu sewaan” (biring mother) yang pada prinsipnya menyediakan seorang wanita untuk mengandung hasil konsepsi inviltro tadi.
Di Indonesia masalah bank sperma mulai banyak dibicarakan setelah lahirnya bayi tabung pertama kali pada awal 1980. Menurut pengakuan Suma Praja, sampai tanggal 4 Oktober 1980 di Indonesia telah banyak anak-anak hasil inseminasi buatan yang berasal dari sperma donor.
Masalah-masalah tersebut merupakan persoalan serius yang membutuhkan penjelasan segera. Fenomena tersebut di masa mendatang akan membawa perubahan besar yang menyangkut moral, sosial, budaya, media dan agama.
B.       Aspek-aspek Bayi Tabung
Bayi tabung dapat dilihat dari beberapa aspek, yaitu :
1.      Aspek medis
Tindakan fertilisasi invitro ini tampaknya sederhana dan mudah dilakukan, tetapi kenyataannya masalah yang rumit dan memerlukan persiapan yang matang. Selain itu diperlukan juga sarana dan fasilitas yang memadai, orang yang ahli di bidangnya, serta memerlukan ketelitian yang tinggi.
Prosedur fertilisasi in vitro secara umum dapat dibagi menjadi beberapa tahapan:
a.       Seleksi dan persiapan pasien
b.      Stimulasi indung telur
c.       Penentuan saat pengambilan ovum
d.      Pengambilan ovum
e.       Persiapan ovum
f.       Persiapan sperma dan inseminasi
g.      Kultur embrio
h.      Transfer embrio
i.        Perawatan pasca transfer
Indikasi fertilisasi in vitro meliputi:
a.       Kerusakan saluran telur
b.      Infertilitas laki-laki
c.       Infertilitas idiopatik
Beberapa persyaratan yang harus dipenuhi oleh seorang yang cocok untuk mendapatkan tindakan fertilisasi in vitro adalah sebagai berikut:
a.       Umur wanita tidak boleh lebih dari 30 tahun
b.      Mempunyai status hormonal yang normal dengan ovulasi regular
c.       Setidak-tidaknya didapatkan satu indung telur yang normal dan dapat dicapai untuk melakukan aspirasi sel telur (ovum pick up)
d.      Yang terbaik adalah sperma normal atau parameter di atas normal
e.       Pasangan tersebut harus benar-benar bersedia bekerja sama dengan tim dokter yang menanganinya
2.      Aspek moral kejiwaan
Ditinjau dari segi kejiwaan, keberadaan bayi tabung dapat diterangkan menurut pendekatan perkawinan, anak, pelaksanaan dan kehadiran anak tabung tersebut di tengah masyarakat.
Dalam suatu perkawinan, masalah anak sangat potensial untuk timbulnya permasalahan. Sebagian besar orang beranggapan bahwa wanita baru sempurna fungsi kodratnya bila dia dapat melahirkan anak. Oleh karena itu, bagi pasangan yang belum atau tidak mempunyai keturunan akan menempuh berbagai berbagai upaya untuk mendapatkannya. Di antara upaya tersebut yaitu dengan metode bayi tabung. Meskipun untuk menetukan pilihan ini harus diperhatikan berbagai pertimbangan. Dari pendekatan anak, anak mempunyai dua nilai, yaitu nilai ekonomi dan nilai kultural.
Ditinjau dari pelaksanaan percobaan bayi tabung ini, pertimbangan psikologi perlu diperhatikan pada pasangan itu sendiri dan tim medis yang menanganinya. Bagi pasangan yang ingin mempunyai keturunan dengan cara ini sejak proses awal tindakan dan konsultasi sampai akhir tindakan merupakan saat-saat yang mendebarkan. Mereka akan dengan penuh harap menunggu hasil tindakan. Tim dokter yang menangani perlu memiliki ketelitian dan keahlian yang memadai. Hal ini perlu untuk keberhasilan tindakan itu sendiri dan juga untuk memberikan rasa percaya bagi pasien.
Terkadang timbul masalah setelah wanita tersebut melahirkan bayi tabung. Karena wanita tersebut dapat melahirkan tetapi prosesnya tidak seperti wanita lainnya, inilah kenyataan yang kadang masih belum dapat diterima oleh seorang wanita. Kehebatan teknologi transfer embrio bukan kebanggaan untuk dipublikasikan dengan mengungkap identitas pasien. Diharapkan wanita dan anak tabung tersebut dapat hidup dengan wajar. Jangan sampai mereka menjadi bahan pergunjingan dan tontonan.
Bagaimanapun masalah psikologis ini sangat tergantung dari kematangan mental pasangan tersebut. Selain itu sangat diperlukan dukungan moral dari berbagai pihak terutama dari tim medis yang menanganinya.
3.      Aspek hukum
Hukum yang berkaitan dengan bayi tabung adalah hukum yang mengatur hubungan dalam keluarga dan pergaulan dalam masyarakat.
Kedudukan yuridis dalam keluarga, anak tabung ini sama dengan anak angkat yang telah diadopsi dan anak kandung. Anak tabung ini berhak mendapatkan warisan dari orang tuanya, berhak mendapatkan perlindungan dan perawatan. Sebaliknya dia harus memenuhi kewajibannya mematuhi dan menghormati orang tuanya.
Adapun munculnya ibu pengganti, diperlukan perjanjian tertulis yang rinci,  misalnya perjanjian sewa-menyewa, jasa (mengandung untuk orang lain), penitipan dan sebagainya, juga perjanjian mengenai imbalan jasa, status anak dan sebagainya.[1]
C.      Hukum Bayi Tabung
1.      Landasan diharamkannya bayi tabung
Landasan diharamkannya bayi tabung sebagaimana tercantum dalam firman Allah SWT:
* ô‰s)s9ur $oYøB§x. ûÓÍ_t/ tPyŠ#uä öNßg»oYù=uHxqur ’Îû ÎhŽy9ø9$# ̍óst7ø9$#ur Nßg»oYø%y—u‘ur šÆÏiB ÏM»t7ÍhŠ©Ü9$# óOßg»uZù=žÒsùur 4’n?tã 9ŽÏVŸ2 ô`£JÏiB $oYø)n=yz WxŠÅÒøÿs? ÇÐÉÈ
Artinya : “Dan Sesungguhnya Telah kami muliakan anak-anak Adam, kami angkut mereka di daratan dan di lautan, kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang Sempurna atas kebanyakan makhluk yang Telah kami ciptakan.(QS. Al-Isra: 70)
Firman Allah SWT:
ô‰s)s9 $uZø)n=y{ z`»|¡SM}$# þ’Îû Ç`|¡ômr& 5OƒÈqø)s? ÇÍÈ
Artinya: Sesungguhnya kami Telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya .(QS. At-Tin: 4)
Hadits Nabi Muhammad SAW yang menyatakan “Tidak halal bagi seseorang yang beriman kepada Allah dan hari akhir menyiramkan airnya (sperma) pada tanaman orang lain (istri orang lain)” (HR. Abu Daud, Thirmidzi dan dipandang Shahih oleh Ibnu Hibban).
Kedua ayat dan Hadits di atas menerangkan bahwa bayi tabung dengan sperma donor itu haram. Karena pada hakikatnya dapat merendahkan harkan dan martabat manusia. Dalam hal itu manusia sejajar dengan tumbuh-tumbuhan dan hewan. Selain itu, diharamkannya bayi tabung dengan sperma donor karena akan menimbulkan percampuradukkan dan penghilangan nasab, yang telah diharamkan oleh ajaran Islam. Oleh karena itu, proses bayi tabung hendaknya dilakukan dengan memperhatikan nilai moral Islami dan tetap harus menjunjung tinggi etika dan kaidah-kaidah syari’ah.
2.      Landasan diperbolehkannya
Firman Allah SWT:
اِنَّ مَعَ العُشْرِ يُشْرَا
Artinya: “Setiap ada kesulitan, ada kemudahan” (QS. Al-Insyirah: 5).
Hadits Nabi yang diriwayatkan dari Anas Ra bahwa Nabi SAW telah bersabda: “Menikahlah kalian dengan wanita-wanita yang subur (peranak), sebab sesungguhnya aku akan berbangga di hadapan para Nabi dengan banyaknya jumlah kalian pada hari kiamat nanti.” (HR. Ahmad)
Dari ayat tersebut, dapat diketahui bahwa syariat Islam mengajarkan kita untuk tidak berputus asa dan menganjurkan untuk senantiasa berusaha dalam menggapai karunia Allah. Termasuk dalam kesulitan reproduksi manusia. Dengan adanya kemajuan teknologi kedokteran dan ilmu biologi modern yang Allah karuniakan kepada umat manusia agar mereka bersyukur dan menggunakannya sesuai dengan kaidah-kaidah ajaran-Nya.[2]
Kesulitan reproduksi tersebut dapat di atasi dengan upaya medis agar pembuahan antara sel sperma suami dengan sel telur istri dapat terjadi di luar tempatnya yang alami. Hal ini diperbolehkan dengan syarat jika upaya pengobatan untuk mengusahakan pembuahan dan kelahiran alami telah dilakukan dan tidak berhasil. Dalam proses pembuahan di luar tempat yang alami tersebut, setelah sel sperma suami dapat sampai dan membuahi sel telur istri dalam suatu wadah yang mempunyai kondisi mirip dengan kondisi alami rahim, maka sel telur yang telah terbuahi diletakkan pada tempatnya yang alami (rahim istri). Dengan demikian, kehamilan alami diharapkan dapat terjadi dan selanjutnya akan dapat dilahirkan bayi secara normal. Proses seperti itu merupakan upaya manusia melalui medis untuk mengatasi kesulitannya dalam reproduksi dan hukumnya boleh menurut syara’. Sebab upaya tersebut merupakan upaya untuk mewujudkan apa yang disunnahkan oleh Islam yaitu kelahiran dan perbanyak anak, yang merupakan salah satu tujuan dasar dari suatu pernikahan sebagaimana hadits di atas.
Dengan demikian, hukum bagi tabung itu mubah (boleh) dengan syarat sperma dan sel telur suami-istri itu sendiri bukan dari donor.
Adapun pendapat para ahli mengenai bayi tabung adalah sebagai berikut:
a.       Syekh Mahmud Syalthout (mantan rektor universitas Al-Azhar)
Menurut hukum syara’ apabila bayi tabung itu dengan air mani suaminya sendiri maka hal itu sudah sesuai dengan hukum dan dibenarkan oleh syara’ dan dipandang sebagai cara untuk menjalankan anak yang sah. Tetapi apabila bayi tabung itu berasal dari sperma lelaki lain yang tidak ada hubungan perkawinan, beliau mengatakan bahwa inseminasi tersebut dalam pandangan syari’at Islam adalah perbuatan munkar dan dosa besar perbuatan itu setara dengan zina dan akibatnyapun sama.
b.      Zakaria Ahmad al Bari
Inseminasi buatan itu boleh menurut syara’, jika dilakukan dengan sperma suami yang demikian masih dibenarkan oleh hukum dan syariat yang diikuti oleh masyarakat yang beradab. Tindakan tersebut diperbolehkan dan tidak menimbulkan noda atau dosa. Disamping itu tindakan demikian dapat dijadikan cara untuk mendapatkan anak yang sah menurut syara’ yang jelas ibu dan bapaknya.
c.       Syekh Yusuf al Qordowi
Apabila inseminasi yang dilakukan itu bukan air mani suami, maka tidak diragukan lagi bahwa hal tersebut adalah sesuatu kejahatan yang sangat buruk dan merupakan perbuatan yang lebih hebat dari pada pengangkatan anak.
d.      Majelis pertimbagan dan syara’ (MPKS) Depkes
Permanian buatan dengan mani suami sendiri tidak dilarang, jadi kebanyakan ulama dapat menerima inseminasi buatan dengan sperma suami sendiri, namun, ada juga yang menolak yaitu Syekh Mahroj Salama (Ulama Al-Azhar). Ulama yang satu ini berpendapat bahwa tidak boleh sama sekali dari suami sendiri maupun dari pihak isteri, karena agama telah meletakkan asas bagi suatu perkawinan untuk menjaga keturunan. Cara yang dilakukan seperti itu akan mengakibatkan terjadinya suatu penyimpangan.
3.      Status bayi tabung
Inseminasi buatan bila dilihat dari asal sperma atau ovumnya dapat dikategorikan dalam tiga golongan, yaitu:
a.       Inseminasi buatan dengan sperma suami
b.      Inseminasi buatan dengan sperma donor
c.       Inseminasi buatan dengan model titipan[3]


SIMPULAN
Dari uraian tersebut dapat kami simpulkan bahwa: Hukum bayi tabung pada hakikatnya haram bila dengan sperma donor dan boleh bila dengan sperma suami sendiri karena merupakan upaya untuk mendapatkan keturunan dengan memanfaatkan teknologi yang selalu berkembang dan menjunjung tinggi etika dan kaidah-kaidah syari’ah.
Demikianlah makalah ini kami buat, semoga bermanfaat. Segala kritik dan saran yang konstruktif sangat kami harapkan demi perbaikan makalah kedepan. Sekian, terimakasih.


DAFTAR PUSTAKA
Ghufron Mukti, Ali dan Adi Heru Sutomo. 1993.  Abortus, Bayi Tabung, Euthanasia, Transplantasi Ginjal dan Operasi Kelamin dalam Tinjauan Medis, Hukum dan Agama Islam. Yogyakarta: Aditnya Media



[1] Ali Ghufran Mukti dan Adi Heru Sutomo, Abortus, Bayi Tabung, Euthanasia, Transplantasi Ginjal dan Operasi Kelamin dalam Tinjauan Medis, Hukum dan Agama Islam, (Yogyakarta: Aditnya Media, 1993), h. 13-18.
Categories: Masailul Fiqhiyah | Tinggalkan komentar

Mengawini Wanita Hamil


A.    Pendahuluan
Tujuan dari perkawinan yaitu untuk menentramkan (menenangkan) jiwa, melestarikan keturunan, memenuhi kebutuhan biologis dan melakukan latihan praktis dan memikul tanggung jawab.
Namun sekarang ini tidak jarang orang melakukan perkawinan karena si pria dituntut bertanggung jawab atas perbuatannya melakukan hubungan seks dengan seorang wanita, sebelum terjadi akad nikah menurut ajaran islam.ada juga yang melangsungkan pernikahan karena untuk menutup malu keluarga si wanita. Wanita hamil tersebut diceraikan pria lain yang bukan menghamilinya. Untuk mengawini wanita tersebut apakah si pria tersebut bersedia dengan sukarela ataupun karena ada imbalan tertentu. Biasanya peristiwa tersebut dihebohkan setelah terjadi kehamilan yang susah di tutup-tutupi.
B.     Pembahasan
Perkawinan wanita hamil adalah wanita yang hamil sebelum melangsungak akad nikah, kemudian dinikahi oleh pria yang menghamilinya. Apabila wanita hamil yang dicerai suaminya atau ditinggal mati suaminya maka si wanita itu tidak boleh di kawini sebelum melahirkan. Sesudah melahirkan dan sesudahmenjalani nifas baru diperbolehkan ia melaksanakan akad nikah. Ada beberapa pendapat yang berkembang dalam masyarakat mengenai wanita yang hamil yang kemudian dinikahi oleh pria yang menghamilinya. Diantaranya adalah :
1.      Ulama’ mazhab yang 4 (Hanafi, Maliki, Syafi’i, Hambali) berpendapat bahwa perkawinan keduanya sah. Dan boleh bercampur sebagai suami-istri dengan ketentuan jika pria itu yang menghamilinya dan kemudian baru ia menikahinya.
2.      Ibnu Hazm (Zhahiri) berpendapat, bahwa keduanya bleh dinikahkan dan boleh bercampur dengan ketentuan, bila telah bertabat dan menjalani hukuman dera, karena keduanya telah berzinah.[1]
Dalam kompilasi hukum islam pasal 53 dijelaskan bahwa :
o   Seorang wanita hamil di luar nikah, dapat dinikahkan dengan pria yang menghamilinya.
o   Perkawinan dengan wanita hamil yang disebut pada poin pertama itu dilangsungkan tanpa menunggu terlebih dahulu kelahiran anaknya.
o   Dengan dilangsungkannya pernikahan pada saat wanita hamil, tidak perlu dilakukan perkawinan ulang setelah anak yang dikandung itu lahir ketentuan tersebut sejalan dengan firman Allah SWT
’ÎT#¨“9$# Ÿw ßxÅ3Ztƒ žwÎ) ºpuŠÏR#y— ÷rr& Zpx.Ύô³ãB èpu‹ÏR#¨“9$#ur Ÿw !$ygßsÅ3Ztƒ žwÎ) Ab#y— ÷rr& Ô8Ύô³ãB 4 tPÌhãmur y7Ï9ºsŒ ’n?tã tûüÏZÏB÷sßJø9$# ÇÌÈ  
Artinya :
3.   Laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik; dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik, dan yang demikian itu diharamkan atas oran-orang yang mukmin. (QS. An-Nuur : 3).[2]
Pada ayat tersebut menunjukan bahwa kebolehan nikak dengan laki-laki yang menghamili merupakan pengecualian oleh karena itu, laki-laki yang menghamili itulah yang tepat menjadi suaminya, selain itu pengidentifikasian dengan laki-laki musyrik menunjukan keharaman wanita yang hamil dimaksud untuk menjadi syarat larangan terhadap laki-laki yang baik untuk mengawininya.[3]
Dalam realitanya kehidupan masyasrakat sering juga ditemukan persoalan dimana seorang wanita hamil tidak dinikahi oleh laki-laki yang menghamilinya. Mengenai pria yang kawin dengan wanita yang hamil oleh orang lain ini, terjadi perbedaan pendapat para ulama.
1.      Imam Abu Yusuf mengatakan keduanya tidak bleh dikawinkan sebab bila dikawinkan perkawinannya batal.
Pendapat ini berdasarkan hadits Nabi
ان رجلا تزوج امرأة فلما اصا يهاوجدها حبلى فرجع ذلك ألى النبي صلى الله عليه و سلم ففرق بينهما و جعل لها الصداق و جلى ها ما ئه
Sesungguhnya seporang laki-laki mengawini seorang wanita ketika ia mencampurinya. Ia ia mendapatkannya dalam keadaan hamil, lalu dia laporkan kepada Nabi, kemudian Nabi menceraikan keduanya dan memberikan kepada wanita itu maskawin kemudian did era sebanyak seratus kali.
Ibnu Qudamah sejalan dengan pendapat Imam Abu Yusuf dan menambahkan bahwa seorang pria tidak boleh mengawini wanita yang diketahuinya telah berbuat zina dengan orang lain kecuali dengan dua syarat :
a)      Wanita tersebut telah melahirkan, bila dia hamil, jadi dalam keadaan hamil tidak boleh dikawini.
b)      Wanita tersebut telah menjalani hukuman dera, apakah dia hamil atau tidak.
2.      Imam Muhammad Bin Al-Hasan Al-Syaibany mengatakan, bahwa perkawinan itu sah tetapi haram baginya bercampur baginya selama bayi yang dikandungnya belum lahir.
Pendapat ini berdasarkan hadits
لاتؤطاء حاملا حتى تصع
Janganlah engkau mencampuri wanita yang hamil sehingga lahir (kandungannya).
3.      Imam Abu Hanifah dan Imam Syafi’i berpendapat bahwa perkawinan itu dipandang sah karena tidak terikat dengan pekawinan orang lain. Wanita itu boleh juga dicampuri karena tidak mungkin nasab bayi yang terkandung ternodai oleh sperma suaminya. Sedang bayinya bukan keturunan orang yang mengawini ibunya itu.
Dengan demikian status anak tersebut adalah sebagai anak zina bila pria yang mengawini ibunya itu, pria yang menghamilinya maka terjadi perbedaan pendapat.
a)      Bayi itu termasuk anak zina bila ibunya dikawini setelah usia kandungannya berumur 4 bulan keatas. Bila kurang dari 4 bulan maka bayi tersebut adalah anak suami yang sah.
b)      Bayi tersebut termasuk anak zina, karena anak itu adalah anak diluar nikah walaupun dilihat darisegi bahasa, bahwa anak itu adalah anaknya. Karena hasil dari sperma dan ovum bapak dari ibunya itu.[4]



[1] M. Ali Hasan, Masailul Fiqhiyah Al-Haditsah Pada Masalah-Masalah Hukum Islam Komtemporer, (Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada, 1997), h. 86
[2] H. Abdul Manan, Aneka Masalah Hukum Perdata Islam Di Indonesia, (Jakarta : Kencana Prenada Media Group, 2006), h. 37-38
[3] H. Zainuddin Ali, Hukum Perdata Islam Indonesia, (              : Sinar Grafika, 2006), h. 45
Categories: Masailul Fiqhiyah | Tinggalkan komentar

KB dalam Perspektif Islam


A.     Pengertian
KB (Keluarga Berencana)Atau family planning, yang dalah bahasa arabnya tandzim an nasl artinya pengaturan kelahiran[1]. pada tahun 1970 KB adalah suatu program yang dianjurkan oleh pemerintah untuk menangani masalah pertumbuhan penduduk yang cepat meningkat. KB ini bertujuan untuk memenej angka kelahiran, mengatasi  jumlah penduduk yang semakin meningkat. Pada prinsipnya KB juga merupakan  sebuah cara pengaturan (fertilitas) dengan maksud untul mencapai suatu keluarga yang sehat, baik, fisik, mental, maupun social, ekonomi. Pada dasarnya KB bertujuan menciptakan nilai-nilai kemalahatan yaitu mencapai kesejahteraan materiil dan spiritual, sehingga KB juga dapat dimaknai sebagai salah satu dari bentuk upaya menyiapkan generasi-generasi yang tangguh yang dapat diandalkan.
KB dicapai dengan menghindari, menunda atau mengatur jarak kehamilan dan persalinan agar terjadi pada usia yang terbaik bagi ayah (suami) ibu (istri). Meskipun tujuan ini baik akan tetapi tidak semua cara yang diupayakan untuk mencapai tujuan tersebut dibolehkan dalam islam.
B.     KB dalam Persepektif islam
AL Qur’an sebagai sumber islam yang utama, sebenarnya tidak ada larangan didalam pengendalian kelahiran-kelahiran.
Para fuqaha (ulama fiqih) KB dapat dianalogikan kepada dua cara yang pernah dilakukan pada masa Rasulullah S.A.W. yang satu boleh dan yang lainya dilarang. Yang diperbolehkan  yaitu yang bersifat sementara dan yang dilarang yaitu yang bersifat permanen. Disini diterangkan yang bersifat sementara seperti ‘azl atau Coitus interuptus (senggama terputus) seorang sahabat pernah menyampaikan pada Rasulullah tentang ‘azl tersebut, dan beliau tidak melarang (HR. Muslim). Melakukan ‘azl ii adalah kesepakatan istri sebagaimana disampaikan Rasulullah S.A.W :
نَهَى رّسُوْلُ اللهِ ص.م. اَنْ يُعْزَلُ عَنِ الحُرًّةِ اِلاَّبِاءِ ذْنِهَا
Artinya :
Bahwasanya Rasulullah S.A.W “ Melarang melakukan ‘azl kecuali dengan izin/ kesepakatan istri” (HR. Ibnu Majah)
Selain ‘azl sebagai suatu upaya menunda kehamilan juga telah ada Alat-alat kontrasepsi yang efektif juga bersifat sementara. Yaitu dengan Pill, IUD, Spiral,Kondom, dan Suntikan. Alat tersebut dipakai oleh perempuan.
Adapun alat yang dilarang oleh islam adalah cara yang bersifat permanen. KB seperti ni bisa dikategorikan sebagai tindakan pengebirian[2]. Dan tindakan ini tidak dibenarkan tegas oleh Nabi S.A.W beliau bersabda : “tidaklah termasuk golongan kami (umat islam) orang yang mengebirikan orang lain. atau orang yang mengebirikan diri sendiri.” (HR. Tabrani)
Dalam KB ada tindakan yang disebut sebagai sterilisasi yang artinya adalah pemandulan secara operasi. Pada laki-laki disebut (fasektomi) dan pada perempuan disebut (tubektomi), namu cara ini adalah suatu cara darurat yang semisal apabila tidak melakukan cara ini ibu tidak terselamatkan, dan apabila seorang ibu sudah melampaui batas umur untuk melahirkan
Dalam kesempatan Rasulullah S.A.W pun bersabda, yang artinya : “sesungguhnya kamu meninggalkan kekayaan sebagai warisan itu lebih bauk, dari pada kamu meninggalkan banyak keluarga kemudian menjadikan orang lain terbebani.(HR. Bukhari)
Menunjukan bahwa islam bersikap simatik terhadap perencanaan keluarga apabila kehamilan yang jarang dan pengaturan jumlah anak akan membuat sang ibu lebih bugar, kesehatan fisik lebih terkendali, begitupun kondisi psikis akan lebih baik, dan ayahpun mendapat kelapangan memenuhi kebutuhan finansial keluarga
Berdasarkan ICPD (International Of Population Developmen) tahun 1994 di Cairo Mesir, maka Indonesia membuat rencana kebijakan tentang program KB sejak tahun 2000 hingga program tahun 2015 adalah terwujudnya keluarga yang berkualitas (quality families by 2010), dengan menjunjung misi pemberdayaan dan memotivasi masyarakat untuk membangun keluarga kecil yang berkualitas[3].
C.     Peran Ulama Dalam Program KB
Di Indonesia, para ulama dan para tokoh agama tercatat sebagai parintis program KB baik di pusat maupun didaerah. Para ulama adalah orang-orang yang terkait dalam keberhasilan program KB dan kesehatan reprodoksi.
Dengan kepeloporan para ulama telah mengantarkan program KB sehingga dapat diterima oleh  sebagian masyarakat Indonesia yang sebagian besar beragama islam. Meskipun banyak melalui pro dan kontra rintangan yang dihadapi bukan saja ide, namun program pengaturan kelahiran ini bersentuhan dengan budaya yang telah tertanam dalam benak banyak masyarakat dengan kalimat “Banyak anak banyak rezeki” dan pada zaman itulah KB dipandang sebagai hal yang berseberangan dengan agama. Para ulama dan agama dari berbagai organisasi semisal NU dan Muhammadiyah memahami bahwa KB mempunyai maksud dan tujuan untuk mewujudkan keluarga yang sakinah mawadah wa rahmah sehingga mampu disosialisasikan dengan saling bahu-membahu, member penerangan dan penjelasan.
Dengan dukungan dari para ulama tersebut menjadi payung hukum islam terhadap program KB di Indonesia.sehingga memudahkan dalam mensosialisasikanya dengan melalui media, seminar, loka karya, pertemuan kelompok, khutbah, pengajian, nasihat perkawinan di KUA, BP4, maupun dipesantren-pesantren bahkan melalui kunjungan dari rumah ke rumah. Konstribusi para ulama dan tokoh  agama ini menjadi daya tarik tersendiri bagi sekitar 97 Negara didunua (sekitar 4000 peserta) mempelajari keberhasilan program KB di Indonesia sejak tahun 1987 sampai saat ini.
hendaknya kita senantiasa mengembalikan segala urusan kita kepada ajaran syariat kita, agar kita tidak terperangkap oleh jaring-jaring setan dan pengikutnya. Kesimpulannya : KB yang diharamkan adalah KB dengan definisi yaitu membatasi jumlah anak adalah tidak boleh dan bertentangan dengan syariat Islam. Akan tetapi walau demikian, para ulama membedakan antara membatasi dengan mengatur jarak kelahiran, dengan tujuan agar lebih ringan dalam mengatur dan merawat mereka, atau karena alasan medis, misalnya karena ada gangguan dalam rahim atau yang serupa, (ingat sekali lagi: bukan untuk membatasi jumlah anak). Bila yang dilakukan adalah semacam ini, yaitu mengatur jarak kelahiran anak, dan dengan tujuan seperti disebutkan, maka para ulama membolehkannya, dan tidak haram. Karena tidak bertujuan untuk memutus keturunan, atau membatasi jumlahnya. Para ulama yang membolehkan KB sepakat bahwa KB yang dibolehkan syariat adalah usaha pengaturan atau penjarangan kelahiran atau usaha pencegahan kehamilan sementara atas kesepakatan suami-istri karena situasi dan kondisi tertentu untuk kepentingan (maslahat) keluarga. Dengan demikian KB di sini mempunyai arti sama dengan tanzim al nasl (pengaturan keturunan). Sejauh pengertiannya tanzim al nasl bukan tahdid al nasl (pembatasan keturunan) dalam arti pemandulan (taqim) dan aborsi (isqath al-haml wa al ijhadl) maka KB tidak dilarang.[4]
Daftar Pustaka
ZaitunahSubhan, menggagas fiqih pemberdayaan perempuan. (Jakarta; El kahfi, 2008)



[1]Zaitunah subhan, menggagas fiqh pemberdayaan perempuan, Jakarta: el KAHFI, 2008, hal. 282
[2]Zaitunah subhan, menggagas fiqh pemberdayaan perempuan, Jakarta: el KAHFI, 2008, hal. 284
[3] Zaitunah subhan, menggagas fiqh pemberdayaan perempuan, Jakarta: el KAHFI, 2008, hal. 287
Categories: Masailul Fiqhiyah | Tinggalkan komentar

Penggunaan Khamr dalam Dunia Medis


A.    Pengertian Khamar
Khamar adalah cairan yang dihasilkan dari biji-biji atau buah-buahan dan mengubahsari patinya menjadi alkohol dengan menggunakan katalisator (enzim) yang mempunyai kemampuan untuk memisahkan unsur-unsur tertentu yang berubah melalui proses peagian.[1]
Menuman sejenis ini dinamakan dengan khamar karena dia mengeruhkandan menyelubungi akal. Artinya menutupi dan merusak daya tangkapnya. Beginilah pengertian khamar menurut kedokteran.[2]
Islam mengharamkan khamar, bahkan menjadikannya sebagai sumber kjahatan. Sebagian orang bodoh menafikan keharamannya. Sementara nash yang menegaskan keharamannya amat jelas dan Allah SWT amat mengancam orang yang melakukan dosa tersebut. Firman Allah SWT :
$pkš‰r¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#þqãYtB#uä $yJ¯RÎ) ãôJsƒø:$# çŽÅ£øŠyJø9$#ur Ü>$|ÁRF{$#ur ãN»s9ø—F{$#ur Ó§ô_͑ ô`ÏiB È@yJtã Ç`»sÜø‹¤±9$# çnqç7Ï^tGô_$$sù öNä3ª=yès9 tbqßsÎ=øÿè? ÇÒÉÈ  
Artinya :
90. Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah Termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. (QS. Al-Maidah : 90).[3]
Diharamkannya khamar adalah sesuai dengan ajaran-ajaran islam yang menginginkan terbentuknya pribadi-pribadi yang kuat, fisik, jiwa dan akal pikirannya. Tidak diragukan lagi khamar melemahkan kepribadian dan menghilangkan potensi-potensinya terutama sekali akal.[4]
Rasulullah SAW tekah mengingatkan tentang hal-hal yang terjadi dalam masalah khamar, yaitu banyak orang yang mengganti khamar dengan nama yang lain untuk menghindari dari dosa. Rasulullah SAW bersabda :
ليس بن اناس من امتي الخمر يسمو نها بغير اسمها (رواه احمد و ابو داود و ابن حبان)
 “Sebagian umatku meminum khamar dan menamakannya bukan dengan namanya”.[5]
B.     Penggunaan Khamar Dalam Dunia Medis
Para ahli fiqh berbeda pendapat mengenai kebolehan berobat dengan khamar dan sesuatu yang memabukan lainnya. Para imam mazhab empat berkata : “haram hukumnya, menurut pendapat yang kuat, menggunakan khamar untuk berobat, seperti mencampurkannya dengan minyak atau makanan atau bahkan tanah karena sabda Rasulullah SAW :
ان ا لله لم يجعل شغا ئكم فيما حرم عليكم
“Sesungguhnya Allah SWT tidak menjadikan penyembuh kamu pada sesuatu yang diharamkan bagimu”.[6]
Tidak seorang Islam pun yang diperkenankan munim arak walaupun hanya sedikit. Tidak juga diperkenankan untuk menjual, membeli, menghadiahkan ataupun membuatnya. Disamping itu tidak pula diperkenankan menyimpannya termasuk juga menghidangkan arak dalam perayaan-perayaan baik kepada orang islam atau kepada orang lain, juga dilarang mencampurkan arak pada makanan ataupun minuman.[7]
Pada suatu ketika Nabi ditanya tentang penggunaan khamar dalam pengobatan lantas Nabi menjawab : dilarang !. laki-laki itu bertanya lagi : “kalau kami hanya pakai untuk berobat” maka jawab Nabi selanjutnya :
انه ليس بد واء ولكنه داء
“Arak itu bukan obat tapi penyakit”
Dan Sabdanya beliau pula :
ان ا لله انزل الداء والدواء وجعل لكم دا ء دواء فتدا ووا ولاتدا ووابحرام (رواه ابو داود)
“Sesungguhnya Allah SWT telah menurunkan penyakit dan obat, dan menjadikan untuk kamu bahwa tiap penyakit ada obatnya, oleh karena itu, berobatlah, tetapi jangan berobat dengan yang haram”.
Tetapi ahli-ahli fiqh hanafiyah berpendapat boleh berobat dengan yang haram jika ia yakin bahwa padabtaada penyembuhan dan tidak ada obat lain yang dapat menggantikannya. Kalu hanya dalam batas perkiraan, maka itu tidak boleh, sedangkan pendapat dokter menghasilkan keyakinan (ilmu) dalam arti kata, bahwa pendapat satu orang dokter tidak menghasilkan keterangan yang meyakinkan.[8]
Menurut Ibnu Qoyim : membolehkan berobat dengan arak, lebih-lebih bagi jiwa yang ada kecenderungan terhadap arak. Akan cukup menarik orang untuk meminumnya demi memenuhi selera dan untuk bersenang-senang, terutama orang-orang yang mengerti akan manfaatnya arak dan dianggapnya dapat menghilangkan sakitnya. Maka pasti dia akan menggunakan arak guna kesembuhan penyakitnya itu.[9]
Sebagian golongan al-zaidiyah berpendapat : yang lebih mendekatkan kebenaran, ialah bolehnya berobat dengan khamar, dimana jika orang yang sakit bersangkutan merasa khawatir akan kebinasaan (mati) atau hilangnya organ tubuh dan diyakini pula akan keselamatan dengan menggunakan khamar itu karena ia ketika itu sama dengan orang yang tercekik oleh sesuap nasi. Jika ia tidak yakin akan kesembuhan, maka ia tidak dibenarkan menggunakan khamar, karena berita menghendaki tidak adanya kesembuhan dengan menggunakannya dan karena itulah maka batalah perkiraan akan dicapinya kesembuhan.[10]
Sebagian ahli ilmu membolehkan pengobatan dengan khamar dengan syarat tidak ada obat lain yang halal untuk menggantikan obat yang haram itu (khamar). Kemudian disyaratkan bahwa orang yang berobat itu tidak bermaksud untuk kesenangan dan tidak ingin kelezatan serta tidak pula melebihi ukuran yang ditentukan oleh dokter.[11]
Firman Allah SWT
( Ç`yJsù §äÜôÊ$# uŽöxî 8ø$t/ Ÿwur 7Š$tã ….I ÇÊÐÌÈ  
Artinya :
173. … Barangsiapa dalam Keadaan terpaksa (memakannya) sedang Dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas…. (QS. Al-Baqoroh : 173)
Al-Qurtubi menyimpulkan bahwa hadits-hadits yang melarang berobat dengan khamar itu boleh jadi dikaitkan dengan keadaan terdesak, karena ternyata berobat dengan racun boleh walaupun tidak boleh meminumnya.[12]
Dengan ini jelas bahwa menggunakan alkohol dan barang-barang lain yang terbuat darinya untuk berobat adalah boleh karena darurat. Sebab alkohol itu ada untuk pelarut obat. Dan apabila mabuk itu terpaksa dilakukan. Seperti dalam keadaan pengobatan dokter atau karena keliru minum seperti juice buah-buahan, maka katika itu tidak ada siksaan secara syara’ atas orang mabuk tersebut.
Tetapi dalam keadaan mabuk yang tidak terpaksaan keadaan (ikhtiyar) maka orang yang mabuk dimaksud akan dihukum atas segala kejahatan yang dikerjakannya. Demikian pula dalam semua keadaan, pemabuk akan diminta pertanggung jawabannya yang bersifat budaya manusia, agar menggantikan yang dia rusak katika mabuk, baik itu terpaksa karena keadaan atau atas kehendak sendiri.[13]
KESIMPULAN
Khamar adalah cairan hasil dari peragian biji-bijian. Hukum meminumnya adalah haram. Namun terkait dengan pemanfaatannya di dunia pengobatan banya ulama yang berselisih pendapat. Mereka ada yang melarangnya namun ada pula yang membolehkannya. Mereka yang membolehkannya berdasarkan keadaan darurat dan tidak ada obat lain selain khamar tersebut.
DAFTAR PUSTAKA
Az-Zuhaily, Wahbah Prof. Dr. 1997. Konsep Darurat Dalam Hukum Islam. Jakarta : Gaya Media Pratama.
Muhammad, Fauzi Syekh. 1997.Hidangan Islami. Jakarta : Gama Insani Press.
Qordhawi, Yusuf Muhammad Syekh. 1980. Halal Dan Haram Dalam Islam. PT. Bina ilmu.
Sabiq, Sayyid. 1984. Fiqh Sunnah 9. Bandung : Al-Ma’arif.



[1] Sayyid Sabiq, Fiqh Sunnah 9, (Bandung : Al-Ma’arif, 1984), h. 46
[2] Ibid, h. 46
[3] Syekh Fauzi Muhammad, Hidangan Islami, (Jakarta : Gama Insani Press, 1997), h. 65-66
[4] Sayyid Sabiq, h. 37
[5] Syekh Fauzi Muhammad h. 67
[6] Prof. Dr. Wahbah Az-Zuhaily, Konsep Darurat Dalam Hukum Islam, (Jakarta : Gaya Media Pratama, 1997), h. 89
[7] Syekh Muhammad Yusuf Qordhawi, Halal Dan Haram Dalam Islam, (PT. Bina ilmu, 1980), h. 98
[8] Prof. Dr. Wahbah Az-Zuhaily… , h. 89
[9] Syekh Muhammad Yusuf  Qordhawi… h. 99
[10] Prof. Dr. Wahbah Az-Zuhaily… , h. 90-91
[11] Sayyid Sabiq, h. 85
[12] Prof. Dr. Wahbah Az-Zuhaily… , h. 92
[13] Ibid, h. 92

Categories: Masailul Fiqhiyah | Tinggalkan komentar

Hukum Nyanyian Dalam Perspektif Islam


  1. Pendapat para ulama tentang lagu atau musik.
Para ulama berselisih pendapat tentang hokum mendengarkan musik. Jumhur ulama memperbolehkan hal ini, sebagian ulama  mengharamkan. Dikisahkan oleh Qadli Abu Thi’b ath-Thabari dari Imam Al-Syafi’i, Malik, Abu hanifah, Sufyan dan sejumlah ulama, meraka berpendapat akan keharaman mendengarkan musik atau lagu.
Ada yang condong memakruhkan jika hanya berupa lantunan-lantunan lagu, mendengarkannyapun makruh. Imam Syafi’I tidak mengharamkan nyanyian dan cenderung memakruhknnya dikalangan umat.[1] Sedangkan Imamam Malik melarang nyanyian dan mendengarkannya. Imam Abu hanifah menggap makruh nyanyian, dan mendengarkannya.
  1. Dalil-dalil golongan yang mengharamkan nyanyian dan sanggahan terhadapnya.
    1. Golongan yang mengharamkan nyanyian berdalil dengan riwayat dari Ibnu Mas’ud dan Ibnu Abbas serta sebagian tabi’in, bahwa mereka mengharamkan nyanyian dengan argumentasi firman Allah :
“Dan diantara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan Allah itu olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan.” (Q.S. Lukman : 6 )
Mereka menafsirkan lahwul-hadits (perkataan yang tidak berguna) ini dengan nyanyian. Dalam kaitan ini Ibnu Hazm berkomentar :
“Argumentasi ini tidak benar karena : tidak ada hujjah bagi seseorang selain Rosulullah saw. Dan pendapat mereka ini ditentang oleh para sahabat dsn tabi’in yang lain. Selain itu nash itu sendiri membatalkan argumentasi mereka dengannya karena dalam ayat itu disebutkan: “Diantara manusia ada orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan manusia dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olol-olokan.”
    1. Mereka juga beralasan dengan hadits
“Sesungguhnya Allah ta’ala mengharamkan budak perempuan yang menjadi penyanyi, mengharamkan menjualnya, harganya, dan mengajarnya (bernyanyi).”
                    
Alasan ini dapat dijawab demikian : hadist tersebut dhoif  menurut Imam ghozali berkata : “yang dimaksud dengan perkataan qoinah ialah budak perempuan yang bernyanyi untuk laki-laki ditemat minum-minuman (semacam bar), sedangkan perempuan asing yang menyanyi untuk orang-orang fasik dan orang-orang yang dikhawatirkan menimbulkan fitnah adalah haram, Serta tidak ada yang meraka maksud dengan fitnah melainkan sesuatu yang dilarang. Adapun nyanyian budak perempuan untuk majikannya, tidak diharamkan oleh hadits ini.  Bahkan bagi selain majikannya pun boleh mendengarkannya jika tidak dikhawatirkan terjadi fitnah.
  1. Dalil yang memperbolehkan nyanyian
    1. Dari segi nash
Mereka berdalil dengan beberapa hadits yang sahih, diantaranya ialah hadits yang menceritakan menyanyinya dua budak perempuan dirumah Nabi saw. Disisi Aisyah, lantas Abu baker membentaknya dan mengatakan, “Nyanyian setan dirumah nabi saw. “ Hal ini menunjukkan bahwa kedua anak itu bukan anak-anak lagi sebagaimana anggapan orang. Sebab kalau benar mereka masih anak-anak, niscaya Abu baker tidak akan marah seperti itu. Yang menjadi peganagan adalah penolakan Nabi saw. Terhadap sikap Abu bakar[2]
    1. Dari segi ruh islam dan qawa’idnya.
      1. Tidak ada sesuatupun dalam nyanyian melainkan ia termasuk kesenangan dunia yang dapat dinikmati oleh hati dan pikiran, dirasaka baik oleh naluri, dan disukai oleh pendengaran.
      2. Kalau kita renungkan, niscaya kta dapati bahwa mencintai nyanyian dan menyukai suara yang merdu itu hamper sudah menjadi intrinsik dan fitrah manusia. Sehingga kita lihat anak kecil yang masih menyusu dalam buaian pun dapat di diamkan dari tangisan degan alunan suara yang merdu, dan hatinya (perhatiannya) terpalingkan dari hal-hal yang menyebabkannya menangis kepada suara tersebut.
  1. Ketentuan dan syarat-syarat yang harus dipelihara.
      1. Gaya dan penampilan juga punya arti penting
      2. Nyanyian itu jangan disertai dengan sesuatu yang haram, seperti minum khamr, menampakkan aurat, dll.
                                         PENUTUP
Setelah menjelaskan pendapat para madzhab dalam menetapkan hokum mendengarkan lagu serta mengutarakan dalil-dalil yang mereka gunakan. Jadi pendapat yang benar yang mengatakan bahwa mendengarkan lagu hukumnya boleh, tetapi bisa menjadi haran jika redapat sesuatu yang menimbulkan hal-hal yang diharamkan, seperti mabuk-mabukan dan sebagainya.
Daftar Pustaka
  • Qordhawi, Yusuf . 1995. Fatwa-Fatwa Kontemporer, Jakarta: Gema Insani
  • Al Munawar, Said Agil Husin, 2004. Membangun Metodologi Ushul Fiqh, Jakarta: PT. Ciputat pres



[1] Said Agil Husin Al Munawar, Membangun Metologi Ushul Fiqh, (Jakarta : 2004) hal. 388
[2] Yusuf Qordawi, Fatwa-Fatwa Kontemporer, (Jakarta : 1995) hal. 685
Categories: Masailul Fiqhiyah | Tinggalkan komentar

Perkawinan Campuran (antar Agama) II


A.    Perkawinan Campuran (Antar Agama) Menurut Hukum Islam
1.      Pendapat pertama
Islam tidak mengenal perkawinan antar pemeluk agama atau perkawinan campuran karena perkawinan yang diperkenankan yang diatur ketentuannya sebagai dispensasi dalam Al Qur’an QS. Al Maidah ayat 5, “tidaklah termasuk perkawinan dengan penganut-penganut agama Islam sebelum Nabi Muhammad SAW”.[1]
Alasan yang mendasarkan pendapat pertama ini adalah QS. Al Baqarah ayat 221 yang terjemahannya berbunyi sebagai berikut :
“Dan janganlah kamu nikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman, sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari pada wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik dengan wanita-wanita mukmin sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang-orang musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedangkan Allah mengajark ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. Dan Allah menerangkan perintah-nya kepada manusia, supaya mereka mengambil pelajaran”
Majelis Ulama Indonesia (MUI) berdasarkan musyawaran nasional I tanggal 26 Mei – 1 Juni 1980 di Jakarta, yang telah diumumkan kembali tanggal 8 Nopember 1986, mengeluarkan fatwa bahwa mengharamkan perkawinan antara orang-orang muslim dengan non muslim termasuk yang dimaksudkan adalah perkawinan laki-laki muslim dengan wanita ahlul kitab (yahudi / nasrani) tetapi diharamkan dengan pertimbangan karena mafsadatnya (bahayanya) lebih besar dari maslahatnya.[2]
2.      Pendapat kedua
Dikenal adanya perkawinan antar pemeluk agama atau perkawinan campuran.
Alasan yang kedua ini yaitu pengecualian yang diatur oleh Allah dalam QS. Al Maidah ayat 5, mempertahankan laki-laki muslim menikah dengan wanita-wanita ahlul kitab termasuk di dalamnya yahudi dan kristen. Apabila wanitanya yang muslim laki-lakinya yahudi atau kristen, tetap ditolak.[3]
Prof. Mahmud Junus mengemukakan bahwa laki-laki muslim boleh mengawini perempuan yahudi / nasrani. Tetapi perempuan muslimah tidak boleh dikawinkan kepada laki-laki yahudi atau nasrani.
Di dalam kitab-kitab fiqh umumnya, perkawinan antar pemeluk agama ini masih dimungkinkan, yaitu antara seorang laki-laki muslim dengan wanita kitabiyah, yang menurut beberapa pendapat adalah mereka yang beragama Yahudi dan Nasrani. Hal ini dibolehkan karena wanita Kitabiyah berpedoman kepada kitab yang aslinya berasal dari wahyu Allah.[4]
Hal ini berdasarkan QS. Al Maidah ayat 5 yang berbunyi :
tPöqu‹ø9$# ¨@Ïmé& ãNä3s9 àM»t6Íh‹©Ü9$# ( ãP$yèsÛur tûïÏ%©!$# (#qè?ré& |=»tGÅ3ø9$# @@Ïm ö/ä3©9 öNä3ãB$yèsÛur @@Ïm öNçl°; ( àM»oY|ÁósçRùQ$#ur z`ÏB ÏM»oYÏB÷sßJø9$# àM»oY|ÁósçRùQ$#ur z`ÏB tûïÏ%©!$# (#qè?ré& |=»tGÅ3ø9$# `ÏB öNä3Î=ö6s% !#sŒÎ) £`èdqßJçF÷s?#uä £`èdu‘qã_é& tûüÏYÅÁøtèC uŽöxî tûüÅsÏÿ»|¡ãB Ÿwur ü“É‹Ï‚­GãB 5b#y‰÷{r& 3 `tBur öàÿõ3tƒ Ç`»uKƒM}$$Î/ ô‰s)sù xÝÎ6ym ¼ã&é#yJtã uqèdur ’Îû ÍotÅzFy$# z`ÏB z`ƒÎŽÅ£»sƒø:$# ÇÎÈ  
Artinya :
“Pada hari ini dihalalkan bagimu yang baik-baik, makanan-makanan orang-orang yang diberi al-kitab itu halal bagimu, dan makanan kamu halal (pula) bagi mereka. (Dan dihalakan mengawini) wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antar wanita-wanita yang beriman dan wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara orang yang diberi Al-Kitab sebelum kamu bila kamu telah membayar mas kawin mereka dengan maksud menikahinya”
Terhadap ayat tersebut, Al-Nawawi menjelaskan bahwa menurut Imam al-Syafi’i, kebolehan laki-laki muslim mengawini wanita kitabiyah tersebut apabila mereka beragama menurut Taurat dan Injil sebelum diturunkannya Al Qur’an. Namun setlah diturunkannya Al Qur’an, dan mereka tetap beragama menurut kitab-kitab tersebut, Hanafi, Maliki dan Hambali berpendapat bahwa kebolehan laki-laki muslim mengawini wanita kitabiyah bersifat mutlak, meski agama ahli kitab tersebut telah dinasakh.
3.      Pendapat ketiga
Pendapat ini merupakan pendapat tengah, sebagai jalan keluar antara kedua pendapat tersebut di atas tetapi masih tetap dalam konteks yaitu mendalilkan argumentasinya dari Al Qur’an dan hadits Rasulullah SAW.
B.     Akibat Hukum Dari Perkawinan Campuran (Antar Agama)
Bila berdasarkan pendapat dari Fatwa MUI tanggal 1 Juni 1980 yang diulang lagi tanggal 8 Nopember 1986, maka perkawinan antara pria Islam dengan wanita ahlul kitab (yahudi dan nasrani) haram hukumnya. Anak-anak hanya bernasab pada ibunya saja dan tidak pada bapaknya. Demikian juga anak tidak mewarisi dari bapak.
Bilamana pendapat kedua yang dianut, maka perkawinan antara pria muslim dengan wanita ahlul kitab, akibat hukumnya sama dengan perkawinan pria muslim dengan wanita muslim yang memenuhi rukun-rukun dan syarat-syarat pernikahan. Anak menjadi sah suami istri, dan berhak saling mewaris antara ayah dengan anak, demikian juga antara suami istri. Bila sebaliknya yang terjadi, justru wanitanya muslim, prianya ahlul kitab, akibat hukumnya perkawinannya menjadi tidak sah.
Menurut pendapat ketiga, bila dipenuhi persyaratan laki-laki itu harus taat patuh dan bertakwa kepada Allah dan benar-benar takwa dan dapat membimbing istri dan anak-anaknya menjadi muslim dan muslimat, maka akibat hukum dari perkawinan itu sah, asal saja dipenuhi baik syarat maupun rukun-rukun perkawinan, sepeti membayar mahar, ijab qabul dan sebagainya.
C.    Perkawinan Campuran (Antar Agama) Menurut Undang-Undang Perkawinan
Perkawinan antar pemeluk agama tidak diatur dalam UU Perkawinan. Demikian juga dalam Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975. UU Perkawinan hanya mengatur tentang perkawinan di luar Indonesia, dan perkawinan campuran.
Pasal 40 Kompilasi menegaskan :
Dilarang melangsungkan pekawinan antara yang pria dan seorang wanita karena keadaan tertentu:[5]
  1. Karena wanita yang bersangkutan masih terikat satu perkawinan dengan pria lain.
  2. Seorang wanita yang masih berada dalam masa iddah dengan pria lain
  3. Seorang wanita yang tidak beragama Islam
Pasal 44 :
Seorang wanita Islam dilarang melangsngkan perkawinan dengan seorang pria yang tidak beragama Islam.
Pasal 1 ayat 2 peraturan tentang perkawinan campuran tersebut menentukan bahwa perbedaan agama, kebangsaan atau asal usul tidak merupakan penghalang bagi suatu perkawinan.
Selanjutnya Pasal 2 menyatakan : Seorang perempuan (istri) yang melakukan perkawinan campuran selama pernikahan itu belum putus, maka si perempuan (istri) tunduk kepada hukum yang berlaku untuk suaminya maupun hukum publik maupun hukum sipil.[6]
Pasala 2 ayat (1) UU Nomor 1 tahun 1974 yang mengatur : bahwa perkawinan adalah sah apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agama dan kepercayaannya itu.
Bila terjadi ada perkawinan campuran antar agama masih harus berpegang kepada ketentuan lama yaitu Pasal 6 dari Regeling op de Gemengde Huwelijken Staatsblad 1898 Nomor 158, yang menjadi rujukan dari Pasal 66 UU Perkawinan ini.


KESIMPULAN
James Leslie Mc Cary dalam bukunya Fredom and Growth in Marriage mengatakan bahwa perkawinan dengan pasangan yang berbeda agama frekuensi perceraiannya dua atau tiga kali lebih besar dari perkawinan dengan pasangan yang tidak berbeda agama. Kawin yang paling ideal yang tidak saja memberikan kebahagiaan di dunia ini, tetapi juga sampai di akhirat nanti adalah kawin segama.
Dalam rumah tangga, suami istri mesti saling percaya-mempercayai, sehingga tidak ada yang rahasia di antara mereka, apalagi rahasia yang terkait dengan strategi pengembangan agama Allah dalam rumah tangga yakni Islamisasi anak dan keturunan.


DAFTAR PUSTAKA
Amrullah, Andi Haid. 1987. Kawin Campur dalam Dimensi Kemanusiaan. Jakarta : Pelita.
Prakoso, Djoko dan I Ketut Murtika. 1987. Azas-azas Hukum Perkawinan di Indonesia. Jakarta : Bina Aksara
Ramulyo, Moh. Idris. 2006. Hukum Perkawinan, Hukum Kewarisan, Hukum Acara Peadilan Agama dan Zakat. Jakarta : Sinar Grafika.
Rofiq, Ahmad. 1998. Hukum Islam di Indonesia. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada.



[1] Ibid, hal. 60
[2] Andi Hamid Amrullah, Kawin Campuran dalam Dimensi Kemanusiaan, Jakarta : Pelita, 1987.
[3] Moh. Idris Ramulyo, op.cit, hal. 63
[4] Drs. Ahmad Rofiq, M.A, Hukum Islam di Indonesia, Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada, 1998, hal. 344
[5] Ibid, hal 343
[6] Djoko Prakoso dan I Ketut Murtika, Azas-asas Hukum Perkawinan di Indonesia, Jakarta : Bina Aksara,a 1987, hal. 65
Categories: Masailul Fiqhiyah | Tinggalkan komentar

Transpalasi Organ Tubuh (ginjal) dalam Perspektif Islam


A.  Pengertian dan sejarah transplantasi ginjal
Pencangkokan (transplantasi) adalah pemindahan organ tubuh yang mempunyai daya hidup yang sehat untuk menggantikan organ tubuh yang tidak sehat dan tidak berfungsi dengan baik, yang apabila diobati dengan prosedur medis biasa, harapan penderita untuk bertahan hidupnya tidak ada lagi.[1]
Transplantasi ginjal mengandung pengertian usaha untuk memindahkan organ ginjal  dari seorang donor, donor hidup maupun donor mayat kepada resipien yang mengalami gagal ginjal terminal. Sejarah transplantasi ginjal dimulai ketika ulman berhasil mengadakan transplantasi  hewan pada tahun 1902 di Wina, Austria. Alexis Carrel, seorang ahli bedah perancis, memusatkan perhatian selama 6 tahun (1904 s/d 1910) dalam usahanya menjadikan transplantasi ginjal sebagai alternative pengobatan.
Usaha-usaha selanjutnya mengalami kegagalan, karena timbulnya reaksi penolakan. Baru pada tahun 1954, Dr. J.E Murray berhasil mengadakan pencangkokan ginjal seorang anak yang menderita gagal ginjal terminal dengan ginjal saudara kembarnya.[2]   
B.  Transplantasi ginjal
Dalam pemahaman kami, transplantasi ginjal mengandung paling tidak 2 kemaslahatan yaitu:
Ø  Bagi resipien, dapat melanjutkan kehidupannya.
Ø  Bagi donor, merupakan sarana amal jariyah yang tidak ternilai harganya dan sesuai dengan firman Allah dalam QS. 5:32 seperti tersebut diatas
Proses pertama dari transplantasi ginjal adalah seleksi resipien. Resipien yang ideal adalah remaja (dewasa muda) dengan gagal ginjal terminal tanpa adanya kelainan pada factor-faktor predisposisi gagal ginjal yang lain. Transplantasi ginjal merupakan kontra-indikasi pada kasus infeksi, proses keganasan, umur tua.[3]
Kepada donor, hal yang semenjak perlu diberitahukan adalah risiko bagi donor. Tingkat kematian donor pada waktu operasi adalah 0,05%. Donor harus mempunyai 2 ginjal yang normal. Setelah satu ginjalnya diambil, satu ginjal yang tersisa pada donor akan mengalami hipertrofi kompensasi sehingga fungsi renal akan kembali normal. Komplikasi pada donor yang dilaporkan adalah proteinuri dan hipertensi ringan yang terjadi paling cepat setelah 10 tahun.[4]
C.  Tipe –tipe donor organ tubuh
1)                    Donor dalam keadaan hidup sehat.
Tipe ini memerlukan seleksi yang cermat dan general check up (pemeriksaan kesehatan yang lengkap), biak terhadap donormaupun terhadap si penerima (resipien).
Pertama yang perlu di perhatikan, adalah kecocokan organ tubuh itu antara donor dan resipien. Kedua, perlu diperhatikan juga kesehatan si donor, baik sebelum diangkat organ tubuhnya maupun sesudahnya.keinginan menolong orang lain memang suatu perbuatan terpuji, tetapi jangan sampai mencelakakan diri sendiri. Berkenaan dalam hal ini Allah memberi petunjuk, dengan firman-Nya:
“… dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan…(al-Baqarah: 195)
2)                    Donor dalam keadaan koma atau diduga kuat akan meninggal segera.
Untuk tipe ini, pengambilan organ tubuh donor memerlukan alat control dan penunjang kehidupan, misalnya dengan bantuan alat pernafasan khusus.
Menurut Ali Hasan, selama orang itu masih hidup, tidak boleh organ tubuhnya diambil, karena hal itu berarti mempercepat kematiannya, dan berarti pula mendahului kehendak Allah, walaupun menurut pertimbanngan dokter, orang itu akan segera meninggal. Mengambil organ tubuhnya, boleh dikatakan sama dengan menyuntik orang itu supaya cepat meninggal.[5]
Jadi pencangkokan organ tubuh dari donor dalam keadaan koma atau hampir meninggal, maka islam pun tidak mengizinkan, karena:
Ø  Hadist Muhammad SAW :
Tidak boleh membuat mudarat pada dirinya dan tidak boleh pula membikin mudarat pada orang lain.
Ø  Manusia wajib berikhtiar untuk menyembuhkan penyakit demi mempertahankan hidupnya, tetapi hidup dan mati itu di tangan Allah.
3)                    Donor dalam keadaan mati
Tipe ini merupakan tipe yang ideal, sebab secara medis tinggal menuggu penentuan kapan donor dianggap meninggal secara medis dan yuridis dan harus diperhatikan pula daya tahan tubuh yang mau diambil untuk tranplantasi.
Adapun donor yang berasal dari orang sudah meninggal dunia, tidak menyalahi ketentuan agama, dengan alasan:[6]
Ø  Alangkah baik dan terpuji, bila organ tubuh itu dapat dimanfaatkan oleh orang lain yang sangat memerlukannya , daripada rusak begitu saja sesudah mayat itu dikuburkan
Ø  Tindakan kemanusiaan sangat dihargai oleh agama islam, sebagaimana firman Allah:
… dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah ia memelihara kehidupan manusia semuanya… (Al-Maidah : 32)
Ø  Menghilangkan penderitaan orang lain.
Tetapi pencangkokan organ tubuh dari donor yang telah meninggal secara yuridis dan klinis, maka islam mengizinkan dengan syarat:
Ø  Resipien (penerima sumbangan donor) berada dalam keadaan darurat, yang mengancam jiwanya, dan ia sudah menempuh pengobatan secara medis dan non-medis, tetapi tidak berhasil.
Ø  Pencangkokan tidak akan menimbulkan komplikasi penyakityang lebih gawat bagi resipien dibandingkan dengan keadaannyasebelum pencangkokan.
D.  Dalil – dalil syar’I berkaitan dengan transplantasi.
Dalil-dalil syar’I yang dapat dijadikan dasar untuk membolehkan pencangkokan organ tubuh antara lain sebagai berikut:
1)        Islam tidak membenarkan orang yang membiarkan dirinya dalam keadaan bahaya maut atau tidak berfungsinya organ tubuhnya yang sangat vital baginya, tanpa usaha-usaha penyembuhannya secara medis dan non-medis, termasuk pencangkakokan organ tubuh, yang secara medis memberi harapan kepada yang bersanngkutan untuk bisa bertahan hidup dengan baik[7].
2)        Al –Qur’an surat al-Maidah (5) ayat 32:
“dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya.”
Ayat ini menunjukkan bahwa islam sangat menghargai tindakan kemanusiaan yang dapat menyelamatkan jiwa manusia.
3)        Hadist Nabi:
“bertobatlah kamu hai hamba-hamba Allah, karena sesunggguhnya Allah tidak meletakkan suatu penyakit, kecuali Dia juga meletakkan obat penyembuhnya, selain satu penyakit yaitu penyakit tua”
Hadist ini menunjukkan bahwa umat islam wajib berobat jika menderita sakit, apapun macam penyakitnya, sebab setiap penyakit merupakan berkah kasih saying Allah.
4)        Kaidah hukum islam
Bahaya itu dilenyapkan / hilangkan
Seorang yang menderita sakit ginjal, maka ia menghadapi bahaya maut sewaktu-waktu. Maka menurut kaidah hokum diatas, bahaya maut itu harus ditanggulangi dengan usaha pengobatan. Dan jika usaha pengobatan secara medis biasa tidak bisa menolong, maka demi menyelamatkan jiwanya, pencangkokan ginjal diperbolehkan karena keadaan darurat.
5)        Menurut hukum wasiat , keluarga orang yang meninggal wajib melaksanakan wasiat orang yang meninggal mengenai hartanya dan apa yang bisa bermanfaat, baik untuk kepentingan mayat itu sendiri, kepentingan ahli waris dan non-ahli waris, maupun untuk kepentingan agama dan umum.


KESIMPULAN
Pencangkokan (transplantasi) atau menyumbangkan oragan tubuh manusia sebagai pengobatan dibolehkan dalam keadaan darurat dibolehkan selama tidak membahayakan pendonor atau penyumbang, bahkan dikategorikan ibadah kalau dilakukan secara ikhlas. Namun, bila mencelakakannya hukumnya haram.
Ada tiga tipe donor organ tubuh yaitu donor dalam keadaan sehat, dalam keadaan koma dan donor dalam keadaan mati yang masing-masing telah dipaparkan pada makalh diatas.
DAFTAR PUSTAKA
-          Hasan, ali. 1996. Masail fiqhiyah al-haditsah. Jakarta:PT Raja Grafindo
-          Aibak, kutbuddin. 2009. Kajian fiqh kontemporer. Yogyakarta : sukses offset.
-          Mukti, ali ghufron. 1993. Abortus, bayi tabung, euthanasia, transplantasi ginjal, dan operasi kelamin. Yogyakarta: aditya media.



[1] Kutbuddin aibak, kajian fiqh kontemporer, (Yogyakarta: sukses offset, 2009) hal. 121
[2] Ali Ghufron mukti, abortus, bayi tabung, euthanasia, transplantasi ginjal, dan operasi kelamin, (Yogyakarta : aditya media, 1993) hal.38
[3] Ibid, hal. 39
[4] Ibid, hal 43
[5] Ali hasan, masail fiqhiyah al-haditsah, (Jakarta: raja grafindo persada) hal. 123
[6] Ibid, hal. 124
[7] Ibid, hal. 130
Categories: Masailul Fiqhiyah | Tinggalkan komentar

Kontrasepsi Mantap Pria/Wanita Manurut Hukum Islam


1.  Pengertian
Yang dimaksud dengan kontrasepsi mantap (kontap) pria / wanita, ialah sterilisasi, baik bagi pria dengan cara memotong saluran sperma (vas deferentia) kurang lebih 2 cm dan kedua ujungnya diikat dengan benang sutera dan operasi “kecil” ini disebut vasektomi, maupun sterilisasi bagi wanita dengan cara memotong saluran telur (tuba falopi) dan kedua ujungnya diikat dnegan pemasangan cincin (cincin falopi) dan operasi ini disebut tubektomi.
2.   Hukum
Mengenai sterilisasi pria (vasektomi) dan sterilisasi wanita (tubektomi), umat Islam Indonesia telah mendapatkan fatwa hukumnya berdasarkan hasil musyawarah ulama terbatas pada tahun 1972 dan Munas MUI tahun 1983, yang mengharamkan sterilisasi, kecuali dalam keadaan terpaksa.[1]
Bisa berubahnya hukum berdasarkan kaidah-kaidah hukum ulama yang telah disepakati oleh semua fuqaha (ahli hukum fiqh) dan ushuliyun (ahli ushul fiqh) yang di antaranya sebagai berikut :
1.
اَلْحُكْمُ يَدُوْرُ مَعَ الْعِلَّةِ وُجُوْ دًا وَعَدَمًا.
“Hukum itu berputar bersama illatnya (alas an yang menyebabkan adanya hukum), ata / tidak ada”.
2.
تَغَيُّرُ اْلأ َحْكَامِ بِِتَغَيِّرُ اْلاَزْ مِنَةِ وَاْلاَ مْكِنَةِ وَاْلاَجْوَالِ .
“Hukum-hukum itu bisa berubah karena perubahan zaman, tempat dan keadaan”.
Penjarangan kelahiran melalui cara apapun tidak dapat diperkenankan, kalau mencapai batas mematikan fungsi berketurunan secara mutlak karenanya sterilisasi yang diperkenankan hanyalah yang bersifat dapat dipulihkan kembali berketurunan dan tidak sampai merusak atau menghilangkan bagian tubuh yang berfungsi.
Sebagaimana dalil :
يَحْرُمُ اِسْتِعْمَالُ مَا يَقْطَعُ الْحَمْلَ مِنْ اَصْلِهِ . أ َمَّا مَا يُبْطِئُ اْلحَمْلَ مَدَّ ةً وَلاَ يَقْطَعُهُ فَلاَ يَحْرُمُ بَلْش إِنْ كَانَ لِعُذْرٍ كَتَرْ بِيَّةِ وَلَدِ يَكْرَهْ وَاِلاَّكُرِهَ . (الباجو رى على فتح القر يب ٢ / ۹۳)
“Haram mempergunakan sesuatu (seperti obat-obatan) yang dapat memutuskan kehamilan sama sekali (sehingga tidak bisa hamil kembali selamanya). Sedangkan yang hanya memperlambat kehamilan untuk sesuatu waktu dan tidak memutuskannya sama sekali, amka tidak haram dan bahkan tidak makruh jika karena sesuatu uzur, seperti ingin mendidik akan lebih dahulu. Jika tidak ada sesuatu alasan apapun, hukumnya makruh”.[2]
Dengan kemajuan teknologi yang makin canggih keberhasilan vasektomi atau tubektomi untuk tidak memberikan keturunan lagi telah mencapai 99 %. Namun, bersamaan dengan itu pula, tingkatan reversibilitas (kemampuan penyambungan kembali saluran sperma / ovum) meningkat sekitar 95 – 98 %. Sehingga harapan untuk mendapatkan keturuna lagi menjadi makin besar. Kemudian dari agama, vasektomi bisa ditolerir, karena tidak membawa akibat kemandulan permanen. Dan lebih ditolelir sang suami menjalani vasektomi, apabila sang istri mendapat berbagai side effecta dengan memakai alat-alat atau cara KB yang lain. Sebab antara suami dan istri mempunyai tanggung jawab dan hak serta kewajiban yang sama sebagaimana tersebut dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 228 :
àM»s)¯=sÜßJø9$#ur šÆóÁ­/uŽtItƒ £`ÎgÅ¡àÿRrÎ/ spsW»n=rO &äÿrãè% 4 Ÿwur ‘@Ïts† £`çlm; br& z`ôJçFõ3tƒ $tB t,n=y{ ª!$# þ’Îû £`ÎgÏB%tnö‘r& bÎ) £`ä. £`ÏB÷sム«!$$Î/ ÏQöqu‹ø9$#ur ̍ÅzFy$# 4 £`åkçJs9qãèç/ur ‘,ymr& £`ÏdÏjŠtÎ/ ’Îû y7Ï9ºsŒ ÷bÎ) (#ÿrߊ#u‘r& $[s»n=ô¹Î) 4 £`çlm;ur ã@÷WÏB “Ï%©!$# £`ÍköŽn=tã Å$rá÷èpRùQ$$Î/ 4 ÉA$y_Ìh=Ï9ur £`ÍköŽn=tã ×py_u‘yŠ 3 ª!$#ur ͕tã îLìÅ3ym ÇËËÑÈ  
Artinya :
“Wanita-wanita yang ditalak handaklah menahan diri (menunggu) tiga kali quru'[. tidak boleh mereka Menyembunyikan apa yang diciptakan Allah dalam rahimnya, jika mereka beriman kepada Allah dan hari akhirat. dan suami-suaminya berhak merujukinya dalam masa menanti itu, jika mereka (para suami) menghendaki ishlah. dan Para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma'ruf. akan tetapi Para suami, mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada isterinya. dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”.
 Kesimpulan
Dari uraian di atas dapat disimpulkan, bahwa kontrasepsi mantap pria / wanita dengan jalan vasektomi dan tubektomi dapat dibenarkanoleh Islam, karena vasektomi dan tubektomi pada saat ini tidak membawa akibat kemandulan permanen, dan sewaktu-waktu dapat disambung kembali.
DAFTAR PUSTAKA
Djamaluddin, 2007, Solusi Problematika Aktual Hukum Islam, Surabaya : Lajnah Ta’lif wan Nasyr 9CTN) NU Jawa Timur.
Masfjuk Zuhdi, 1997, Masail Fiqhiyah, Jakarta : PT. Gunung Agung.



[1] Masfjuk Zuhdi, 1997, Masail Fiqhiyah, Jakarta : PT. Gunung Agung, hal. 182.
[2] Djamaluddin, 2007, Solusi Problematika Aktual Hukum Islam, Surabaya : Lajnah Ta’lif wan Nasyr 9CTN) NU Jawa Timur, hal. 426.
[3] Masjfuk Zuhdi, Op.Cit., hal. 185-186.
Categories: Masailul Fiqhiyah | Tinggalkan komentar

Penggunaan Kartu Kredit Dalam Perspektif Islam


A.    Pengertian Kartu Kredit
Kata bithaqah (kartu) secara bahasa digunakan untuk potongan kertas kecil atau dari bahan lainnya, di atas ditulis penjelasan yang berkaitan dengan potongan kertas itu. Sementara I’timaan artinya kondisi aman dan saling  percaya.
Sementara terminologi kartu kredit yaitu kartu yang dikeluarkan oleh pihak bank dan sejenisnya dapat digunakan oleh pembawanya untuk membeli barang-barang dan segala keperluan dan pelayanan tertentu secara hutang.
Adapun menurut Johannes Ibrahim yang dikutib oleh Gemala Dewi, dalam Hukum Perikatan di Indonesia kartu kredit adalah uang plastik yang diterbitkan suatu instansi yang memungkinkan pemegang kartu untuk memperoleh kredit atas transaksi yang dilakukannya dan pembayarannya dapat dilakukan secara angsuran dengan membayar sejumlah bunga (finance charge) atau sekaligus pada waktu yang telah ditentukan.
B.     Macam-macam Kartu Kredit (credit card)
1.      Kartu kredit pinjaman yang tidak dapat diperbaharui (charge card)
Charge dalam kamus bahasa Inggris artinya membeli dengan hutang atau atas dasar rekening. Diantara keistimewaan yang paling menonjol dari kartu ini diharuskan menutup total dana yang ditarik secara lenyap dalam waktu tertentu yang diperkenankan atau sebagian dari dana tersebut.
2.      Kartu kredit pinjaman yang  dapat  diperbaharui (revolving credit card)
Pemilik kartu ini diberi pilihan cara menutupi semua tagihannya dan sisanya diberikan dengan cara ditunda dan dapat dikutkan pada tagihannya dan berikutnya. Bila menunda pembayarnya, maka dikenakan 2 macam bunga yaitu bunga keterlambatan dan bunga dari sisa dana yang belum dilengkapi. Contoh kartu kredit : Master card, VISA, American Express, Dinner club, JIB, dll.
C.    Pandangan Fiqih Seputar Kartu Kredit
Sebelum membahas tentang hukum fiqih tentang penggunaan kartu kredit,terlebih dahulu mengulas hal-hal terkait dengan kartu kredit itu. Tiga hal yang terkait dengan kartu kredit, yaitu :
1.      Kaitan antara kartu kredit dengan pihak bank mengeluarkannya dalam transaksi pengeluarkan kartu. Kartu ini merupakan jaminan, sedangkan bank merupakan penjamin untuk hubungan dengan pihak lain.
2.      Hubungan antara kartu kredit dengan bank yang mengeluarkan kartu dan pihak pedagang. Dalam hubungan ini kartu kredit sebagai jaminan pihak bank sebagai penjamin. Bank tersebut akan memperoleh imbalan dari pedagang karena sebagai perantara.
3.      Hubungan antara pemilik kartu dengan pedagang
Hubungan ini hukumnya disesuaikan dengan jual beli atau penyewaan yang dilakukan sesuai dengan karakter transaksi disamping sistem hiwalah (transfer).
D.    Hukum-hukum Syari’at Tentang Kartu Kredit
1.      Persyaratan Berbau Riba
Transaksi untuk mengeluarkan kartu-kartu kredit pada umumnya mengandung beberapa komitmen berabu riba yang iantinya mengharuskan para pemegang kartu untuk membayar bunga-bunga riba atau denda-denda finansial, bila terlambat menutupi hutangnya. Permasalahannya terletak pada sah atau tidaknya transaksi pembuatan kartu itu terhadap pengaruh komitmen-komitmen tersebut.
Pandangan ulama fiqih kontemporer dalam permasalahan tersebut ada 2 , yaitu :
a.       Pendapat yang membolehkan
Mereka menganggap transaksi itu sah, namun komitmennya batal yakni, apabila nasabah yakin bahwa akan mampu menjaga diri untuk tidak terjerumus ke dalam konsekuensi menanggung komitmen tersebut. Dasar mereka yang membolehkan yaitu :
Sabda Nabi Muhammad SAW kepada Aisyah, ketika Aisyah hendak membeli Barirah, Namun majikannya tidak mau melepasnya kecuali dengan syarat hak wala’ (perwalian) budak itu tetap milik mereka. Nabi bersabda  kepada Aisyah, “Belilah budak itu dan tetapkan syarat bagi mereka, karena perwalian (atas budak) itu hanya diberikan kepada yang memerdekakan budak. Karena perwalian itu adalah hak orang yang membebaskannya.
Sudah terlalu banyak yang melakukan diberbagai negeri dengan adanya transaksi pemakaian listrik, telpon, dsb yang kesemuanya menggunakan komitmen yang sama yaitu apabila pelanggan terlambat membayar, berarti harus dikenai denda tertentu. Namun ternyata tidak seorangpun ulama yang mengharamkan berlangganan fasilitas-fasilitas tersebut, padahal syarat-syrat tersebut ada di dalamnya.
Pinjaman tidak begitu saja batal karena batalnya persyratan, bahkan pinjaman tetap sah meskipun syaratnya batal, berdasarkan sabda Nabi Muhammad SAW :
“Kenapa masih ada orang yang menetapkan syarat yang tidak berasal dari Kitabullah ? barang siapa yang menetapkan syarat yang bukan berasal dari Kitabullah maka persyaratannya batal, meski jumlahnya seratus syarat-syarat.”
b.      Pendapat yang melarangnya
Bagi kubu yang melarang pembuatan kartu kredit dengan persyaratan tersebut menganggap transaksi itu batal yaitu pendapat dari kalangan Malikiyah dan Syafi’iyah.
Mereka mengambil dalil yang digunakan pendapat pertama tentang hadis Barirah, bahwa qiyas itu adalah alasan berbeda. Karena dalam kasus Barirah syarat tersebut mampu dibatalkan oleh Aisyah karena dianggap bertentangan dengan ajaran syari’at, karena kejadian itu terjadi ketika syari’at Islam benar-benar masih menjadi panutan dan masih dipelihara oleh negara Islam. Bagaimana mungkin dapat dibandingkan dengan syarat riba berbau riba dalam pengambilan kartu kredit yakni syarat yang bersandar pada referensi sekulerisme yang didasari atas pemisahan atas pemisahan agama dengan negara, lalu mengingkari referensi islam yang suci melibatkan agama dengan negara, lalu mengingkari referensi Islam yang melibatkan agama dalam kehidupan manusia ?
Mereka juga membantah qiyas dengan transaksi pemakaian listrik dan telepon, karena fasilitas ini amat dibutuhkan dan kemaslahatan kehidupan uamt manusia tergantung padanya. Sementara kartu kredit memiliki vitalitas yang lebih rendah dari pada itu.
2.      Denda Keterlambatan dan Bunga riba
Pihak yang mengeluarkan kartu kredit menrtapkan beberapa bentuk denda finansial karena keterlambatan penutupan hutang, karena penundaan atau karena tersendatnya pembayaran dana yang ditarik melalui kartu. Denda keterlambatan (late charge) ini identik dengan makna riba an nasi’ah yang dilarang syara’ dan hukumnya haram.
Dalam keputusan seminar fiqih yang diselenggarakan di Bahrain (november 1998)menyebutkan bahwa dalam penerbitan charge card, card holder tidak dipersyaratkan untuk memiliki rekening di bank bersangkutan, akan tetapi ia berkewajiban untuk membayar sejumlah nilai transaksi yang tertera dalam voucer dalam batas waktu yang diberikan. Jika ia melakukan keterlambatan pembayaran, maka validitas kartu tidak diakui dan masa keanggotaannya akan berakhir. Hukum penerbitan kartu ini diperbolaehkan dengan syarat tidak adanya harga (late charge) atas keterlambatan pembayaran.
Berdasarkan hasil seminar Al barakah ke 12, Ulama kontemporer memperbolehkan adanya syarat late charge (keterlambatan pembayaran ), namun demikian late charge tidak boleh dimiliki oleh issuer, akan tetapi diakui sebagai dana sosial.
3.      Uang Administrasi Penarikan tunai
Diantara jenis kartu kredit yang ada yang bisa digunakan untuk menarik uang tunai dari bank bersangkutan. Biasanya pihak bank akan mengambil uang administrasi dari pengambilan uang tunai itu.
Para Ulama Fiqih kontemporer berbeda pendapat tentang hukum uang administrasi semacam itu. Diantara ulama yang berpandangan bahwa hukum uang-uang administrasi itu boleh, karena tidak lebih dari sekedar uaph, imbalan dari transfer uang nasabah dari rekening menuju keberbagai lokasi dimana  uang itu digunakan, yang tentu saja membutuhkan biaya operasional.
Ada juga yang berpendapat bahwa uang administrasi dalam kasus ini haram hukumnya. Karena proses penarikannya bersifat hutang atau peminjaman dari pihak pemegang kartu atau dari pihak bank yang mewakilinya. Maka uang yang diambil sebagai imbalannya termasuk riba yang diharamkan. Ini adalah pendapat dari Bank Ar-rajihi.
  
PENUTUP
Dari beberapa penjelasan dan pemaparan isi makalah di atas, terdapat berbagai pendapat mengenai hukum seputar kartu kredit yang dikeluarkan oleh bank dari penjelasan di atas dapat disimpulkan adanya perbedaan pendapat mengenai persyaratan berbau riba daalm pembuatan kartu kredit yang masing-masing pendapat mempunyai dasar dalam berargumen, yakni ada pendapat yang membolehkan ada pula pendapat yang melarangnya.
Mengenai denda keterlambatan para ulama melarang pihak bank mengambil denda keterlambatan itu sebagai dana sosial yang akan dapat digunakan untuk kepentingan-kepentingan sosial yang bertujuan baik dan sesuai syari’at Islam.
Sedangkan mengenai uang administrasi dalam penarikan uang tunai melalui kartu kredit, para ulama berpendapat, ada yang membolehkan sekedar uapah (ujrah) yang tidak berlebih-lebihan, dan ada pula yang melarangnya karena dalam kartu kredit bersifat hutang atau pinjaman, sehingga dalam pengambilannya harus sesuai dengan yang ndihutang tanpa ada imbalan karena dalam hutang imbalan termasuk riba.
Oleh karena itu bagi para nasabah bank, hendaknya berhati-hati dalam melakukan transaksi dengan bank-bank, harus melihat terlebih dahulu aspek-aspek hukum menurut Islam.
DAFTAR PUSTAKA
Dewi, Gemalaet.al.2005. Hukum Perikatan di Indonesia, jakarta : Kencana
Djuwaini, Dimyaudin. Pengantar Fiqih Muamalah, Yogyakarta : Pustaka Pelajar
Mustilih, Abdullah Shalah As Syawi. 2004. Bunga Bank Haram ? Jakarta : Darul Haq
http://hisbut-tahrir.or.id/2009/12/06bolehkah_memanfaat_kartu_kredit
Categories: Masailul Fiqhiyah | Tinggalkan komentar

Pernikahan antara Kaum Muslim dengan Non Muslim



1.      Perkawinan dengan wanita musyik: tidak bertuhan (atheis) dan murtad.
Agama Islam tidak memperkenankan pria muslim kawin dengan wanita muysrik.
Ÿwur (#qßsÅ3Zs? ÏM»x.Ύô³ßJø9$# 4Ó®Lym £`ÏB÷sム4 ×ptBV{ur îpoYÏB÷s•B ׎öyz `ÏiB 7px.Ύô³•B öqs9ur öNä3÷Gt6yfôãr& 3 Ÿwur (#qßsÅ3Zè? tûüÏ.Ύô³ßJø9$# 4Ó®Lym (#qãZÏB÷sム4 Ӊö7yès9ur í`ÏB÷s•B ׎öyz `ÏiB 78Ύô³•B öqs9ur öNä3t6yfôãr& 3 y7Í´¯»s9ré& tbqããô‰tƒ ’n<Î) ͑$¨Z9$# ( ª!$#ur (#þqããô‰tƒ ’n<Î) Ïp¨Yyfø9$# ÍotÏÿøóyJø9$#ur ¾ÏmÏRøŒÎ*Î/ ( ßûÎiüt7ãƒur ¾ÏmÏG»tƒ#uä Ĩ$¨Y=Ï9 öNßg¯=yès9 tbr㍩.x‹tGtƒ ÇËËÊÈ  
Artinya :
Dan janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun Dia menarik hatimu. dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik, walaupun Dia menarik hatimu. mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran”. (QS. Al-Baqarah : 221).
Ibnu Hazim berkata bahwa tidak dihalalkan bagi seorang wanita muslimah menikahi seorang lelaki yang tidak beragama Islam. Tidak pula dihalalkan bagi seorang kafir untuk memiliki seorang hamba sahaya yang muslim dan juga seorang budak wanita muslimah.
Para ulama telah sepakat tanpa terkecuali bahwa seorang muslim tidak dihalalkan mengawini seorang wanita musyrik, ateis, dan murtad.
Adapun wanita murtad walaupun ia telah pindah dan memeluk agama ahli kitab, seperti agama Nasrani atau Yahudi maka tidak dihalalkan bagi seorang muslim mengawini wanita yang telah kelar dari Islam. Kerena, dengan keluarnya dari Islam, berarti ia telah terhukum di dalam Islam dengan hukuman mati, sebagaimana sabda Rasulullah SAW
“Barang diapa yang mengganti agamanya, hendaklah kamu membunuhnya”[1]
2.      Perkawinan dengan wanita Majusi
Pria muslim juga tidak memperbolehkan mengawini wanita Majusi (penyembah api), sebab mereka tidak termasuk ahli kitab. Demikian jumhur ulama berpendapat, dan yang dimaksud ahli kitab adalah orang-orang Yahudi dan Nasrani.[2]
Imam Syafi’I berkata, “Ahli kitab adalah orang-orang Yahudi dan Nasrani yang berasal dari bani Israel. Adapun umat-umat lain yang memeluk agama Yahudi dan Nasrani, tidak termasuk dalam kategori kalimat “Ahli Kitab”,  karena Nabi Isa a.s dan Nabi Musa a.s tidaklah diutus kecuali kepada bani Israel, dan dakwah mereka tidaklah disampaikan kepada selain mereka dari umat-umat lainnya yang ada di muka bumi.”
Mungkin Imam Syafi’I berpendapat seperti ini karena bersandar pada hadits sahih yang marfu’ (diangkat sanadnya) kepada Rasulullah SAW.
“Semua nabi diutus hanya untuk kaumnya saja, sedangkan aku diutus untuk seluruh manusia”[3]
3.      Laki-laki muslim menikah dengan perempuan ahli kitab.
Berbeda dengan larangan mengawini perempuan musyrik, penyembah berhala, matahari, bintang dan sebagainya, atau ateis, atau murtad (yang keluar dari agama Islam) sebagaimana telah diuraikan di atas, Al-Qur’an menghalalkan bagi laki-laki muslim mengawini perempuan dari kalangan Ahli Kitab, (walaupun tidak sebaliknya; yakni seorang perempuan muslimah mengawini leki-laki non muslim, baik dari kalangan ahli kitab ataupun selir mereka. Yang demikian itu haram dan tidak sah hukumnya, sebagaimana akan diuraikan kemudian).[4]
Tentang dibolehkannya laki-laki muslim mengawini perempuan dari ahli kitab, Allah SWT berfirman :
“Makanan (sembelihan) orang-orang yang diberi al-kitab itu halal bagimu, dan makananmu itu halal pula bagi mereka. (dan dihalalkan mengawini wanita-wanita yang menjaga kehormatan) diantara wanita-wanita yang beriman dan wanita-wanita yang menjaga kehormatan diantara orang-orang yang diberi al-kitab sebelum kamu…” (al-Mai’dah: 5)
Ayat tersebut jelas menghalalkan pernikahan laki-laki muslim dengan perempuan ahli-kitab. Namun, sebagian ulama mazhab Syafi’I menyatakan bahwa yang dimaksud ahli-kitab dalam ayat tersebut adalah kaum Yahudi dan Nasrani yang masih berpegang pada kitab suci Taurat dan Injil sebelum mengalami perubahan atau distorsi. Sedangkan mereka yang ada sekarang, yakni sesudah kedatangan agama Islam, tidak termasuk ahli-kitab yang perempuan-perempuan mereka halal dinikahi oleh laki-laki muslim.[5]
4.      Perkawinan seorang laki-laki ahli kitab dengan wanita muslimah
Sayyid Quthb menyerang dengan keras seruan yang busuk ini, yang dilakukan oleh Umar bin Faruwwakh dan Abu Syadi di dalam pengasingan, seraya berkata,
“Sesungguhnya perkawinan seorang laki-laki Ahli kitab dengan seorang wanita muslimah, hukumnya haram, karena anak-anak keturunan dari keduanya akan di panggil dengan nama-nama bapak mereka, sesuai dengan hukum syariat Islam. Istilah yang pindah ke keluaraga suami dan kaumnya dan tanah tempat tinggalnya, menurut hukum realitas yang ada. Ia akan hidup jauh dari kaumnya sehingga kemungkinan besar kelemahannya dan kesendiriannya di sana akan menjadikan fitrah terhadap keislamannya. Sebagaimana anak-anaknya akan dipanggil dengan nama suaminya sehingga mungkin saja mereka (anak-nak) akan memeluk agama yang bukan agama ibunya, sesuai dengan hukum lingkungan, sedangkan Islam wajib untuk selalu mengayomi dan menjaga umatnya.”
Perkawinan dengan wanita non muslim adalah penyelewengan.
Seorang istri yang non muslim pasti akan menanamkan adab kebiasaan yang tidak Islami pada anak-anaknya, walaupun tidak dengan sengaja. Bahkan suami sendiri akan terpengaruh dengannya dan tidak akan selamat dari penganutnya. Apabila suami sangat mencintainya pasti ia akan melepas kalung agamanya dari lehernya minimal, ujian yang ia dapatkan adalah ia akan banyak menyaksikan dengan matanya sendiri bahwa akhlak dan nilai-nilai keislamannya, serta prinsip peradabannya terinjak-injak di rumahnya secara terang-terangan.[6]
KESIMPULAN
Berkenaan dengan tema makalah, mengenai perkawinan antara kaum muslim dan non muslim maka akan muncul pertanyaan, apakah mungkin ketenangan jiwa diperoleh dalam suatu rumah tangga yang berlainan akidah dan apakah mungkin mendidik anak-anak yang salah dalam satu keluarga yang beragam keyakinan?
Dalam suatu rumah tangga yang suami istrinya sama-sama muslimpun masih dipertanyakan, apakah sukses atau tidak dalam membina rumah tangga? Tentu kekhawatiran itu lebih terasa lagi, dan cukup beralasan apabila yang memberikan pendidikan suami istri yang berlainan akidah.
Menurut hemat penulis, jalan yang lebih aman adalah menghindari dari persoalan-persoalan yang banyak mengandung teka-teki dan memilih jalan yang sudah jelas arahnya, yaitu kawin dengan sesama muslim. Dengan demikian risiko yang dihadapi lebih kecil dalam membina rumah tangga.
DAFTAR PUSTAKA
Hasan, M. Ali, 2006, Pedoman Hidup Dalam Berumah Tangga, Jakarta: Prenada Madia Group.
Al-Jabri, Abdul Muta’al 2003, Apa Bahayanya Menikah Dengan Wanita Non Muslim? Jakarta: Gema Insani Press.

http://www.google.com




[1]  Abdul Muta’al al-Jabri, Apa Bahayanya Menikah Dengan Wanita Non Muslim (Jakarta: Gema Insani Pess, 2003) hal 22-24
[2]  M. Ali Hasan, Op. Cit, hal 247
[3]  Abdul Muta’al al-Jabri, Op. Cit ,hal 40
[5]  Ibid
[6]  Abdul Muta’al al_Jabri, Op. Cit, hal 48
Categories: Masailul Fiqhiyah | Tinggalkan komentar

Buat website atau blog gratis di WordPress,com. The Adventure Journal Theme.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.